![]() |
| Kepala BPS Provinsi NTB Dr. Drs. H. Wahyudin, M.M., menyampaikan Berita Resmi Statistik di Aula Tambora Kantor BPS NTB, Kamis (01/10/2026). |
Mataram, KabarNTB - Perekonomian Nusa Tenggara Barat menorehkan catatan menggembirakan. Badan Pusat Statistik Provinsi NTB merilis data yang memperlihatkan lonjakan ekspor hampir tiga kali lipat sepanjang delapan bulan pertama 2026, diiringi inflasi yang terkendali dan daya beli petani yang terjaga di atas ambang aman.
Ekspor Tembus US$ 1,69 Miliar
Dalam Berita Resmi Statistik yang disampaikan Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. H. Wahyudin, M.M., di Aula Tambora, Kamis (01/10/2026), nilai ekspor NTB periode Januari hingga Agustus 2026 tercatat mencapai US$ 1,69 miliar, melesat 296,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal kuat penguatan neraca perdagangan luar negeri daerah.
Khusus Agustus 2026, nilai ekspor bulanan menyentuh US$ 172,92 juta, tumbuh 68,41 persen secara tahunan (year-on-year). Di sisi lain, nilai impor berhasil ditekan tajam hingga 95,22 persen year-on-year, tersisa hanya US$ 0,81 juta. Surplus perdagangan yang melebar ini memperkuat posisi NTB sebagai daerah berorientasi ekspor.
Pariwisata dan Transportasi Ikut Menggeliat
Sektor pariwisata turut menunjukkan geliat positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Agustus 2026 naik ke angka 51,79 persen. Kedatangan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Lombok (BIZAM) meningkat 4,40 persen secara bulanan, dengan total 9.437 orang yang tercatat memasuki wilayah NTB.
Pergerakan penumpang jalur laut juga tumbuh positif. Arus kedatangan naik 3,61 persen, keberangkatan tumbuh 7,68 persen, sementara aktivitas pembongkaran logistik melonjak 20,08 persen. Data ini mencerminkan meningkatnya konektivitas dan perputaran barang di wilayah kepulauan NTB.
Petani Sejahtera, Inflasi Terkendali
Di tingkat produsen, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB berada di posisi 128,63, jauh di atas ambang batas 100 yang menjadi acuan kesejahteraan petani. Subsektor hortikultura mencatat NTP tertinggi yakni 175,39, disusul tanaman pangan (126,59), peternakan (118,99), perikanan (112,80), dan perkebunan rakyat (112,33). Seluruh subsektor berada dalam zona surplus daya beli.
Sementara itu, laju inflasi NTB pada September 2026 terpantau terkendali di angka 0,36 persen (month-to-month) dan 2,72 persen (year-to-date), mengindikasikan stabilitas harga yang relatif terjaga di tengah dinamika ekonomi nasional.
(*)

