![]() |
| Ilustrasi gedung RSUD Bima, tempat pertemuan antara calon pegawai berinisial A dan oknum yang diduga meminta uang diklaim terjadi di lantai dua. |
Bima, KabarNTB - Dugaan praktik pungutan liar di RSUD Bima mencuat ke permukaan setelah seorang calon pegawai mengaku dimintai uang Rp3 juta oleh oknum di lingkungan rumah sakit tersebut. Uang itu diklaim untuk membeli pakaian pelengkap, namun transaksi urung terjadi setelah muncul syarat janggal yang justru membuat calon pegawai itu curiga. Pengakuan ini disampaikan pada Rabu, 7 Oktober 2026, dengan identitas pelapor dirahasiakan demi keamanannya.
Pertemuan Senyap di Lantai Dua
Calon pegawai yang disebut dengan inisial A itu menuturkan bahwa pertemuan dengan oknum terkait tidak berlangsung di sembarang tempat. Transaksi yang diduga bernuansa pungli rekrutmen pegawai ini diklaim terjadi di lantai dua gedung RSUD Bima.
"Iya, pertemuannya di atas lantai dua," ujar A.
Dalam pertemuan tersebut, A mengaku pada awalnya bersedia menyerahkan uang senilai Rp3 juta. Ia pun sempat diarahkan pada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum uang berpindah tangan.
Surat Bermeterai yang Janggal
Syarat yang diminta oknum itu bukan hal biasa. A mengungkapkan bahwa dirinya diwajibkan menandatangani surat bermeterai Rp10 ribu yang memuat nama dirinya sekaligus nama ibunya, sebuah persyaratan yang dianggapnya mencurigakan.
"Saya mau kasih uang Rp3 juta. Syaratnya tanda tangan meterai Rp10 ribu, nama saya dan nama ibu," jelas A.
Adapun dalih yang diberikan oknum tersebut soal peruntukan uang itu terdengar sederhana namun meragukan bagi A.
"Uang Rp3 juta untuk membeli baju pelengkap," ujar A, menirukan keterangan yang ia terima dari oknum tersebut.
Transaksi akhirnya batal. A meminta agar oknum yang meminta uang itu juga membubuhkan tanda tangannya di atas meterai sebagai bukti serah terima, namun permintaan itu ditolak mentah-mentah. Penolakan itulah yang membuat A mengurungkan niatnya menyerahkan uang dan kemudian melaporkan pengalamannya.
Humas RSUD Bima Bantah Ada Mahar
Merespons informasi yang beredar, Humas RSUD Bima Rita Kartika menegaskan bahwa tidak ada praktik pungutan dalam proses penerimaan calon pegawai di rumah sakit tersebut.
"Tidak ada mahar dalam calon pegawai di RSUD Bima. Kalau memang ada perekrutan pegawai, tidak ada mahar, saya pastikan tidak ada mahar," tegas Rita Kartika, Humas RSUD Bima.
Hingga berita ini diturunkan, identitas oknum yang diduga melakukan pungutan liar tersebut belum diungkap secara resmi, dan redaksi belum dapat memverifikasi lebih lanjut secara independen atas klaim yang disampaikan calon pegawai berinisial A tersebut.
(*)

