![]() |
| Putri Mahkota Swedia Victoria berdialog dengan masyarakat adat Karang Bajo dan mengikuti penanaman pohon di kawasan hutan adat Bayan, Lombok Utara, Minggu (6/9/2026). |
Lombok Utara, KabarNTB - Desa Adat Karang Bajo di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, kedatangan tamu istimewa pada Minggu (6/9/2026). Putri Mahkota Swedia Victoria, yang mengemban peran sebagai Goodwill Ambassador UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan, menyambangi desa adat tersebut untuk melihat langsung bagaimana masyarakat setempat merawat hutan adat, mata air, dan warisan budaya secara turun-temurun. Kunjungan ini menegaskan bahwa kearifan masyarakat Bayan bukan sekadar tradisi lokal, melainkan sebuah model nyata pelestarian alam yang kini mendapat sorotan dunia.
Meninjau Mata Air Mandala hingga Dialog dengan Masyarakat Adat
Didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, dan rombongan UNDP, Putri Victoria menelusuri kawasan Mata Air Mandala yang berada di dalam hutan adat Bayan. Ia turut serta dalam penanaman pohon dan meluangkan waktu untuk berdialog langsung dengan warga mengenai pengetahuan serta kearifan lokal yang terus dijaga dan diwariskan antargenerasi.
Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam bagi sang putri mahkota. Ia menyampaikan apresiasinya atas komitmen masyarakat dalam menjaga alam sekaligus mempertahankan pengetahuan leluhur sebagai bekal generasi mendatang.
"Apa yang Bapak dan Ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada. Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting," ujar Putri Victoria.
"Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyambut saya dengan begitu hangat dan menerima saya sebagai bagian dari budaya masyarakat di sini," imbuhnya.
Empat Hutan Adat dan 27 Mata Air, Tulang Punggung Kehidupan Bayan
Bagi masyarakat Karang Bajo, menjaga alam bukan semata urusan lingkungan hidup. Hutan, mata air, dan tradisi merupakan satu kesatuan tata kehidupan yang saling menopang. Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air yang menjadi sumber air bersih sekaligus penopang pertanian warga. Menjaga hutan, dengan demikian, berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat itu sendiri.
Pemekel Karang Bajo, Nikrana, menjelaskan bahwa filosofi masyarakat adat menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati. Prinsip itu diwujudkan melalui berbagai aturan, prosesi, dan tradisi yang mengatur bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan alam.
"Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Bayan," kata Nikrana, Pemekel Karang Bajo.
Karang Bajo, Ruang Hidup yang Memadukan Budaya, Alam, dan Wisata
Karang Bajo bukan hanya desa wisata biasa. Ia adalah ruang hidup tempat budaya, alam, dan masyarakat tumbuh secara berdampingan. Nilai-nilai kearifan lokal yang dijaga melalui pranata adat menjadikan desa ini relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang diperjuangkan lembaga-lembaga internasional, termasuk UNDP.
Kunjungan Putri Mahkota Swedia ini sekaligus menjadi pengakuan global bahwa praktik pelestarian yang dijalankan masyarakat adat Bayan layak menjadi contoh. Dari Karang Bajo, pesan yang menggema bukan sekadar tentang keindahan sebuah desa, melainkan tentang bagaimana sebuah komunitas merawat warisan leluhur demi masa depan generasi berikutnya.
(*)

