Yogyakarta, KabarNTB - Satu kursi undangan khusus disiapkan panitia untuk Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal pada malam pembukaan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Senin (28/9/2026). Ia menjadi satu-satunya gubernur dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta yang hadir, mendampingi Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan dalam pertemuan yang mempertemukan pengelola taman budaya dan pelaku seni dari penjuru Indonesia.
Panggung Lintas Generasi
Malam itu, Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta menampilkan apa yang sesungguhnya menjadi inti sebuah taman budaya: rantai kebudayaan yang hidup di atas panggung. Konser Orkestra Taman Budaya Yogyakarta di bawah arahan konduktor Oni Krisnerwinto tampil berdampingan dengan anak-anak Bimbingan Seni Art for Children, Tyok Satrio, Princessa Alicia, dan Marcella Dee.
Ndarboy Genk, Sanggar Kancil Art, serta maestro Didik Nini Thowok melengkapi panggung dengan warna dan pengalaman yang berbeda. Anak-anak memperoleh ruang untuk tumbuh, seniman muda mendapat kesempatan mengembangkan karya, sementara para maestro memperlihatkan perjalanan panjang yang siap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tema Srawung Karya dan Gulawenthah Budaya
Pertemuan ke-25 ini diikuti 17 taman budaya dari berbagai daerah dengan tema Gyaning Rasa Mantraning Nusantara dan semangat Srawung Karya, Gulawenthah Budaya. Forum tersebut menjadi ruang berbagi karya, pengalaman, dan gagasan tentang bagaimana kebudayaan dirawat melalui hubungan antardaerah.
Rangkaian kegiatan tidak berhenti di panggung pertunjukan. Suluh Sumurup Art Festival memberi ruang bagi seniman difabel. Pojok Kreatif mempertemukan pengunjung dengan kerajinan, cendera mata, kuliner, dan produk ekonomi kreatif. Pertunjukan delegasi taman budaya, karawitan, hingga kegiatan membatik memperluas cara masyarakat berjumpa dengan kebudayaan.
Taman Budaya sebagai Infrastruktur Kebudayaan
Menteri Kebudayaan dalam sambutannya mengajak seluruh daerah menempatkan taman budaya bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan sebagai infrastruktur kebudayaan yang sesungguhnya: ruang produksi karya, pembinaan talenta, pendidikan publik, eksperimen gagasan, dan pertemuan antara seniman dengan masyarakat. Musik, tari, teater, seni rupa, film, dan sastra membutuhkan ekosistem, sementara tradisi lisan, ritus, adat, pengetahuan tradisional, dan warisan budaya memberi akar bagi perkembangan karya.
Pelajaran Yogyakarta untuk NTB
Bagi delegasi NTB, pengalaman Yogyakarta menjadi bahan penting. Kekayaan budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo sesungguhnya hidup melalui para maestro, sanggar, perajin, komunitas, dan seniman muda yang membutuhkan ruang untuk belajar, mencoba, tampil, dan bertemu publik.
Ruang latihan, lokakarya bersama maestro, pameran, pertunjukan, dan dialog publik dapat dibangun sebagai rangkaian yang saling menguatkan. Karya dari Lombok maupun Pulau Sumbawa pun perlu memperoleh kesempatan menjangkau masyarakat yang lebih luas, tanpa kehilangan akar komunitas yang melahirkannya.
Penguatan itu membutuhkan kerja bersama antara Dinas Kebudayaan, Taman Budaya NTB, museum, pemerintah kabupaten dan kota, sekolah, perguruan tinggi, serta komunitas. Tujuannya bukan memperbanyak acara semata, tetapi membangun ekosistem kebudayaan yang hidup dan berkelanjutan.
Ketika konser berakhir, pekerjaan kebudayaan justru terus berjalan: seniman kembali berlatih, guru mendampingi murid, maestro mewariskan pengetahuan, dan pengelola membuka ruang untuk perjumpaan berikutnya. Di situlah taman budaya menemukan maknanya, bukan sekadar tempat orang datang menonton, tetapi rumah tempat kebudayaan terus tumbuh, diwariskan, dan menemukan generasi penerusnya.
(*)

