Manggarai Timur, KabarNTB - Menjelang malam di Dusun Dampe, Desa Satar Pudut, Kecamatan Lamba Leda Utara, suasana posko utama Tim Solidaritas Kerja Sama Regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN) perlahan mereda dari kesibukan seharian. Tenaga medis berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, dapur umum terus bekerja, dan logistik bergerak menuju warga terdampak. Di tengah kelelahan seluruh tim itulah, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, memilih untuk tidak kembali ke Labuan Bajo. Ia menginap bersama Tim Solidaritas NTB di posko, menutup rangkaian panjang perjalanan yang telah dimulai sejak sebuah keputusan cepat diambil beberapa hari sebelumnya di Mataram.
Bermula dari Rapat Singkat Sabtu Pagi
Perjalanan menuju malam di Dampe itu sesungguhnya berawal dari rapat singkat di Pendopo Gubernur NTB pada Sabtu pagi. Hadir dalam rapat tersebut Sekretaris Daerah NTB, Kepala BPBD NTB, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kesehatan, para direktur rumah sakit umum lingkup Pemprov NTB, Kepala Dinas Kominfotik yang juga Juru Bicara Pemprov NTB, serta Kepala Biro Kesra Setda NTB. Setelah membahas situasi gempa magnitudo 7,7 di NTT, Miq Iqbal mengambil keputusan tegas: dalam waktu 24 jam, NTB harus sudah memiliki tim yang siap diberangkatkan ke wilayah terdampak, lengkap dengan tenaga medis, personel teknis, dapur umum lapangan, ambulans, kendaraan operasional, alat berat, dan bantuan logistik.
Kepala Dinas Kominfotik ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Tim, didampingi Kepala Biro Kesra Setda NTB, dengan tugas mengonsolidasikan seluruh kekuatan yang diperlukan agar tim dapat dilepas sesuai tenggat waktu yang ditetapkan.
Puluhan Tenaga Medis Mendaftar Sukarela
Begitu rapat berakhir, seluruh perangkat daerah langsung bergerak. Kepala Dinas Kesehatan mengonsolidasikan tenaga kesehatan bersama rumah sakit-rumah sakit yang terlibat, dan dalam waktu singkat puluhan orang menyatakan kesediaan menjadi relawan, mulai dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, apoteker, asisten apoteker, hingga psikolog. Mereka berasal dari Dinas Kesehatan dan rumah sakit lingkup Pemprov NTB, RS Universitas Mataram, serta Dinas Kesehatan Kota Mataram, banyak di antaranya bahkan belum pernah menginjakkan kaki di wilayah yang akan mereka datangi.
Di saat bersamaan, BPBD menyiapkan tim dan peralatan, Dinas Sosial mengonsolidasikan bantuan, Dinas Perhubungan membantu kesiapan mobilisasi, sementara dapur umum lapangan dari Kota dan Kabupaten Bima menyatakan kesiapannya untuk berangkat. Ambulans, kendaraan rescue, kendaraan operasional, truk, hingga alat berat mulai disiapkan, diiringi datangnya bantuan berupa beras, bahan makanan, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, tenda, terpal, selimut, matras, hingga kebutuhan bayi dan perempuan.
Bali Menyusul, Semangat KR-BNN Menguat
Sore harinya, seluruh unsur kembali merapat di Pendopo Gubernur untuk memantapkan persiapan. Pada saat yang sama, Miq Iqbal melakukan pertemuan virtual dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster, yang turut menyatakan kesiapan Bali untuk bergerak membantu. Di tengah bencana yang melanda NTT, hubungan tiga provinsi dalam Kerja Sama Regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN) kembali menemukan maknanya. Namun Miq Iqbal kembali menegaskan satu hal: tim NTB harus diberangkatkan paling lambat keesokan harinya, tidak lebih dari 24 jam sejak keputusan diambil.
Diberangkatkan Kurang dari 24 Jam
Keesokan harinya, Ahad, 16 Agustus 2026, seluruh persiapan kembali diperiksa. Personel telah tersedia, logistik telah terkumpul, kendaraan telah disiapkan, dan laporan kesiapan pun disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Tim Solidaritas KR-BNN NTB untuk Gempa M7,7 NTT dinyatakan siap diberangkatkan.
Sore itu, halaman BPBD Provinsi NTB dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang datang mengantar, mulai dari unsur TNI dan Polri, perangkat daerah, industri jasa keuangan, dunia usaha, BUMN, BUMD, hingga lembaga kemanusiaan. Pelepasan berlangsung sederhana namun penuh haru. Miq Iqbal mengingatkan bahwa NTB pernah berada dalam situasi serupa saat gempa Lombok 2018 mengajarkan warga NTB bagaimana rasanya kehilangan rumah dan menghadapi trauma. Kini, NTB mendapat kesempatan membalas kebaikan yang pernah diterima, bukan karena bantuan harus dibalas dengan bantuan, melainkan karena mereka yang pernah ditolong semestinya lebih memahami bagaimana rasanya ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Menyeberang ke Flores, Bangun Posko Transit
Satu per satu kendaraan pun meninggalkan Mataram, bergerak menuju Sape, Bima, sebelum menyeberangi laut menuju Labuan Bajo. Setibanya di sana, tim tidak berhenti lama. Koordinasi segera dilakukan bersama sistem penanganan bencana NTT, posko transit dibangun, tim dibagi tugas, tenaga kesehatan bergerak, dapur umum menuju lokasi pelayanan, dan logistik diturunkan serta disalurkan sesuai kebutuhan. Kebijakan yang lahir di ruang kerja Gubernur kini telah berubah menjadi gerakan nyata di lapangan.
Tiga Gubernur Bertemu di Manggarai Barat
Beberapa hari kemudian, Miq Iqbal memutuskan menyusul langsung ke lokasi. Ia menyeberangi laut menuju Bali untuk memenuhi komitmen bersama Gubernur Bali, I Wayan Koster, sebelum bersama rombongan Gubernur Bali dan Panglima Kodam IX/Udayana terbang menuju Labuan Bajo. Di Bandara Komodo, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, telah menunggu. Ketiga kepala daerah kemudian bertemu di Posko Utama Penanganan Gempa di Manggarai Barat untuk mendengar paparan laporan kerusakan, kondisi pengungsi, dan perkembangan penanganan, sekaligus menegaskan satu pesan yang sama: NTT tidak sendiri.
Terbang ke Manggarai Timur, Warga Satar Pudut Butuh Air Bersih
Dari Manggarai Barat, perjalanan Miq Iqbal dilanjutkan menuju Manggarai Timur bersama Gubernur NTT menggunakan helikopter TNI Angkatan Darat, menempuh sekitar 35 menit penerbangan menuju salah satu pusat dampak gempa. Di Desa Satar Pudut, masyarakat menyampaikan kebutuhan mendesak mereka, terutama air bersih dan bahan makanan. Miq Iqbal mendengarkan langsung keluhan warga, lalu berbicara dengan bahasa pengalaman, mengingatkan bahwa NTB pernah merasakan hal serupa, sekaligus mengajak warga tetap sabar, kuat, dan tidak kehilangan semangat untuk bangkit.
Setelah Gubernur NTT kembali ke Labuan Bajo, Miq Iqbal melanjutkan perjalanan ke berbagai titik pengungsian, menyapa warga, mendengar cerita mereka, dan membagikan bantuan dari tenda ke tenda, termasuk roti, susu, dan cokelat kepada anak-anak yang ia temui di sepanjang perjalanan.
Semalam di Dampe, Sebelum Fajar Sudah Bergerak Lagi
Malam itulah Miq Iqbal memilih menginap di Dampe. Lewat tengah malam, seluruh unsur tim dikumpulkan untuk mengevaluasi kerja yang telah dilakukan, mendengarkan pengalaman dari lapangan, dan membicarakan langkah pelayanan bagi masyarakat pada hari-hari berikutnya, sebelum Miq Iqbal menyampaikan terima kasih langsung kepada tim dan ikut beristirahat di posko. Pukul empat dini hari, ia sudah kembali terbangun untuk melanjutkan perjalanan darat lebih dari enam jam menuju Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.
Pesan di Borong: Data Cepat dan Jangan Sibuk Cari Kesalahan
Di Posko Utama Penanganan Gempa Kabupaten Manggarai Timur, Miq Iqbal bertemu Sekretaris Daerah setempat bersama sejumlah kepala perangkat daerah dan Direktur RSUD Borong. Perjalanan kemanusiaan ini pun memasuki babak baru, bukan lagi sekadar soal membawa bantuan secepat mungkin, melainkan bagaimana daerah yang pernah mengalami bencana dapat berbagi pengalaman untuk membantu daerah lain mempersiapkan masa pemulihan.
Miq Iqbal menekankan pentingnya pendataan rumah rusak secara cepat dan akurat, termasuk menggandeng perguruan tinggi dengan kompetensi teknik sipil dan konstruksi untuk melakukan asesmen kerusakan secara terukur, lengkap dengan koordinat dan tingkat kerusakan yang jelas, karena data yang baik akan mempercepat pengambilan keputusan sekaligus proses rehabilitasi. Ia juga menitipkan pesan agar dalam penanganan bencana, semua pihak tidak terlalu sibuk mencari siapa yang salah, karena masyarakat yang kehilangan rumah membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja bersama, dengan kebersamaan sebagai salah satu kekuatan terpenting dalam penanganan bencana.
Baju Adat Manggarai yang Diingat Warga Flores
Dalam perjalanan kembali menuju Labuan Bajo, rombongan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, dan di tempat-tempat itu warga menyapa serta meminta foto bersama karena mengenali Gubernur NTB. Mereka mengingat bahwa sejak awal gempa terjadi, NTB telah menyampaikan duka sekaligus mengirimkan tim, bantuan, dan tenaga medis. Warga Manggarai juga mengenang momen ketika Miq Iqbal mengenakan pakaian adat Manggarai saat Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Mataram, di tengah duka NTT akibat gempa, sebuah pilihan sederhana yang bagi sebagian warga Flores menjadi bahasa perhatian bahwa saudara di Mataram mengingat mereka.
Pelajaran dari Gempa Lombok dan Ketabahan Warga NTT
Dari seluruh perjalanan ini, NTB membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman. Gempa Lombok 2018 telah membentuk banyak pelajaran dalam penanganan bencana, namun pengalaman itu tidak boleh membuat sebuah daerah merasa sudah cukup siap. Kesiapsiagaan harus terus diperkuat, data personel dan sumber daya harus selalu diperbarui, mobilisasi tenaga medis harus semakin cepat, dan jalur distribusi logistik harus semakin jelas, dengan melibatkan rumah sakit, perangkat daerah, relawan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam satu sistem yang siap bergerak kapan pun keadaan darurat datang.
Namun dari masyarakat NTT, ada pelajaran lain yang tak kalah berharga, yakni ketabahan. Di tengah rumah yang rusak dan ketakutan terhadap gempa susulan, masyarakat tetap menunjukkan kesabaran, tidak menuntut dengan suara keras, dan tidak membutuhkan banyak janji. Yang mereka perlukan hanyalah kepastian bahwa mereka diperhatikan, bahwa ada yang datang dan mendengar, serta bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi masa sulit seorang diri. Gempa magnitudo 7,7 di NTT mungkin telah merobohkan banyak bangunan, namun ia juga memperlihatkan bahwa ketika persaudaraan bergerak, jarak antarpulau dapat terasa begitu dekat.
(*)

