Mataram, KabarNTB - Bagi sebagian anak, sepotong ayam mungkin hanya bagian dari menu makan siang biasa. Namun bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan, makanan bergizi bisa menjadi sesuatu yang begitu berharga, bahkan layak dibawa pulang untuk dibagi bersama keluarga. Kisah itulah yang disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Sinta Agathia, saat menghadiri Lomba Menu Kreatif Makan Bergizi Gratis (MBG) Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026 di Halaman Kantor Gubernur NTB, Sabtu (22/8/2026).
Cerita Anak yang Membagi Ayam untuk Ibunya
Bunda Sinta, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamannya bertemu seorang anak penerima manfaat program yang rela membagi jatah makanannya demi keluarga di rumah.
"Saya pernah bertemu seorang anak yang membagi satu potong ayam menjadi dua untuk dibawa pulang dan diberikan kepada ibunya. Kondisi seperti inilah yang menunjukkan bahwa Program MBG benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan," ujar Bunda Sinta.
25 SPPG se-Pulau Lombok Unjuk Kreasi Menu
Lomba bertema "Menu Bergizi, Wujudkan Generasi Sehat Indonesia" ini diikuti 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Pulau Lombok. Para peserta menampilkan beragam kreasi menu dengan tetap memperhatikan standar kandungan gizi, gramasi, dan anggaran yang telah ditetapkan dalam Program MBG.
Bunda Sinta meminta seluruh mitra penyedia makanan, khususnya SPPG, untuk terus meningkatkan kualitas layanan melalui menu yang tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga bervariasi, menarik, dan sesuai kebutuhan anak-anak.
95 Persen Menu Sudah Penuhi Standar Gramasi dan Gizi
Berdasarkan hasil penilaian terhadap menu yang ditampilkan, sekitar 95 persen telah memenuhi ketentuan gramasi, kandungan gizi, dan anggaran. Meski demikian, Bunda Sinta menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu terus disempurnakan agar kualitas pelayanan semakin optimal.
"Lomba ini bukan semata-mata kompetisi, tetapi menjadi ruang untuk berbagi inovasi dan praktik baik. Kita berharap berbagai inovasi yang lahir hari ini dapat diterapkan lebih luas untuk meningkatkan kualitas Program MBG di seluruh NTB," katanya.
Peran Keluarga dan Sekolah Tak Kalah Penting
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan. Keterlibatan orang tua dan guru diperlukan untuk membangun kebiasaan makan yang baik, sekaligus memastikan makanan yang telah disediakan benar-benar dikonsumsi anak-anak, bukan sekadar terbagikan.
"Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam mendampingi anak-anak. Makanan bergizi yang telah disiapkan harus benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang mereka," tutur Bunda Sinta.
Ayam Rarang Kids Friendly, Inovasi Kuliner Khas Lombok
Salah satu inovasi yang menarik perhatian dalam lomba ini datang dari SPPG Batu Emas Banyumulek, Lombok Barat, lewat menu Ayam Rarang Kids Friendly. Hidangan khas Lombok tersebut dimodifikasi menjadi lebih ramah bagi lidah anak-anak tanpa menghilangkan karakter kuliner lokalnya, sekaligus tetap memperhatikan nilai gizi.
"Anak-anak tetap bisa mengenal dan menikmati makanan khas daerah, tetapi dengan rasa yang lebih sesuai bagi mereka, sambil tetap memperhatikan nilai gizi dan kualitas bahan makanan," ujar ahli gizi SPPG Batu Emas Banyumulek.
Beragam kreasi yang ditampilkan dalam lomba ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi anak dapat berjalan seiring dengan pengembangan inovasi dan pemanfaatan kekayaan kuliner daerah. Pada akhirnya, keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari terpenuhinya standar gizi dan gramasi, tetapi dari sejauh mana makanan yang disajikan benar-benar dikonsumsi dan membawa manfaat nyata bagi tumbuh kembang anak-anak, terutama mereka yang paling membutuhkan.
(*)

