Manggarai Timur, KabarNTB - Perpisahan itu tidak memerlukan protokol yang rumit. Di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Jumat malam (28/8), warga bergantian menyalami puluhan relawan Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB yang selama dua pekan hadir menemani mereka melewati masa paling berat pascagempa berkekuatan M7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus lalu. Air mata jatuh bukan hanya dari ibu-ibu dan anak-anak, tetapi juga dari para lelaki yang pernah menyaksikan istri mereka mendapat pertolongan persalinan di tengah duka bencana.
Hadir Ketika Gempa Memorak-porandakan Segalanya
Bagi masyarakat Lamba Leda Utara, kedatangan tim NTB bukan sekadar kiriman bantuan dari luar. Mereka datang ketika gempa 15 Agustus masih menyisakan trauma, ketika 14 orang di kecamatan itu telah meninggal dunia, dan ketika sekitar 90 persen rumah warga Desa Satar Padut rata dengan tanah atau rusak berat. Tim itu kemudian tinggal, memasak, merawat yang sakit, mengantarkan bantuan ke titik-titik pengungsian, dan menemani rasa takut yang belum juga sepenuhnya sirna.
"Di saat kami membutuhkan bantuan dan dukungan, hadir saudara-saudara kami dari Nusa Tenggara Barat," ujar Camat Lamba Leda Utara Emilianus Harjonit.
Emilianus menyampaikan apresiasi atas kepedulian Pemerintah Provinsi NTB beserta seluruh relawan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini.
Menjangkau Perbukitan yang Terlupakan
Kepala Desa Golo Mangung, Engelbertus Anam, yang berbicara mewakili para kepala desa di Lamba Leda Utara, mengaku tidak pernah menyangka perhatian dari NTB mampu menjangkau wilayah-wilayah perbukitan dengan medan sulit dan jauh dari pusat pengungsian. Tim membawa bantuan logistik, perlengkapan pengungsian, dapur umum lapangan, hingga pelayanan kesehatan, dan bantuan itu bergerak mengikuti masyarakat ke mana pun mereka bertahan.
"Kami tidak memiliki sesuatu yang besar untuk membalasnya. Yang dapat kami berikan hanyalah doa dan rasa terima kasih yang tulus," ujar Engelbertus.
Tokoh masyarakat Desa Satar Kampas, Wilibrodus Yonsisai Yudin, juga merasakan hal yang sama. Bagi warga di wilayah pegunungan, kehadiran tim hingga ke pelosok yang sulit dijangkau menjadi bukti nyata bahwa respons kemanusiaan tidak berhenti di pintu tenda pengungsian utama. Salah satu wujud nyatanya adalah dapur umum mandiri yang dibangun tim NTB di Kampung Maki, Desa Satar Kampas, yang memastikan masyarakat perbukitan tidak luput dari dukungan pangan harian.
Respons Kilat, Dua Jam Setelah Gempa
Kecepatan respons NTB dimulai sekitar dua jam setelah gempa mengguncang pada 15 Agustus. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal langsung memanggil kepala perangkat daerah untuk menyiapkan bantuan, sarana prasarana, dan tim solidaritas. Kurang dari 24 jam setelah koordinasi itu, tim siap bergerak.
Pada 16 Agustus, Gubernur bersama Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri melepas konvoi 30 kendaraan dari Mataram. Dengan dukungan ASDP, rombongan menempuh dua kali penyeberangan hingga Labuan Bajo, dan pada 17 Agustus tim telah tiba di Flores untuk langsung menjalankan misi.
89 Relawan, Lebih dari 4.000 Pengungsi Terlayani
Tim NTB datang dengan kekuatan terpadu. Sebanyak 89 relawan kesehatan diterjunkan dalam dua tahap, terdiri atas 32 perawat, 28 dokter, enam apoteker, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, serta sejumlah tenaga pendukung lainnya. Lebih dari 4.000 pengungsi telah mendapatkan pelayanan kesehatan selama misi berlangsung.
Di sektor pangan, 25 personel tim dapur umum setiap hari menyiapkan makanan untuk sekitar 3.000 orang dalam tiga kali santap. Sementara 15 personel tim penyisir logistik bergerak ke titik-titik pengungsian mandiri agar bantuan pangan tetap menjangkau warga yang tinggal berpencar di perbukitan.
Pulang, tapi Tidak Meninggalkan Seutuhnya
Sebelum berpamitan, tim memastikan dukungan tidak berhenti bersama langkah kepulangan mereka. Tiga dapur umum mandiri diserahkan untuk dikelola masyarakat di Kampung Maki Desa Satar Kampas, Kampung Nanga Lira Desa Satar Padut, dan Kampung Wae Tua Desa Golo Mangung.
Sesuai arahan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, berbagai sarana yang digunakan selama masa tanggap darurat juga ditinggalkan: tenda kesehatan dan tenda pengungsian, peralatan dapur, mesin genset, lampu penerangan, kendaraan roda tiga, serta perlengkapan pendukung lainnya. Semua diserahkan untuk dimanfaatkan masyarakat dan Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara dalam proses pemulihan.
Gubernur Iqbal sendiri sempat hadir langsung menemui warga di tenda-tenda pengungsian, membawa pesan sederhana bahwa masyarakat NTT tidak sendirian. NTB datang sebagai saudara, karena pernah merasakan luka yang serupa saat gempa Lombok 2018 mengguncang puluhan ribu keluarga.
Kini para relawan kembali ke NTB. Yang tertinggal di Dampek bukan hanya tenda, genset, dan dapur umum, tetapi juga doa agar NTT segera bangkit dan persaudaraan yang lahir dari kebersamaan di tengah bencana. Jarak kembali terbentang di antara dua pulau, tetapi ikatan yang tumbuh selama dua pekan itu tidak mengenal jarak.
(*)
