Lombok Timur, KabarNTB - Penanganan stunting di NTB memasuki babak baru. Tim Penggerak PKK Provinsi NTB bersama The Gentle Care Foundation Indonesia memperkenalkan pendekatan inovatif bernama Media Assessment Partisipatif (MAP) dengan metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) di Desa Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Bedanya dari program selama ini: orang tua bukan lagi sekadar penerima informasi, melainkan subjek utama yang mengenali dan memecahkan masalah keluarganya sendiri.
Kesadaran dari Dalam, Bukan dari Atas
Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Sinta Agathia Iqbal, menegaskan bahwa akar dari masalah stunting yang sulit diatasi salah satunya adalah pendekatan yang selama ini terlalu satu arah.
"Selama ini keluarga sering kali hanya menjadi penerima informasi. Melalui pendekatan ini, kami ingin orang tua menjadi subjek utama yang mampu mengenali akar persoalan di keluarganya sendiri, memahami penyebabnya, dan bersama-sama menemukan solusi yang paling tepat. Ketika kesadaran itu tumbuh dari dalam keluarga, perubahan akan lebih mudah diwujudkan dan hasilnya akan lebih berkelanjutan." ujar Sinta Agathia Iqbal.
Peta Visual sebagai Alat Dialog
Metode MAP memanfaatkan media visual berbentuk peta untuk membantu keluarga mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari aspek kesehatan, gizi, pendidikan, kondisi sosial ekonomi, budaya, lingkungan, hingga akses layanan publik.
Dengan pendampingan kader Posyandu sebagai fasilitator, orang tua diajak berdialog secara terbuka, menelusuri keterkaitan antarpermasalahan, dan menggali sendiri potensi solusi yang tersedia di lingkungan sekitar mereka. Posyandu pun bertransformasi: bukan sekadar pos layanan kesehatan, tetapi ruang pemberdayaan keluarga yang sesungguhnya.
Model yang Siap Direplikasi
Uji coba di Desa Sakra diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan model pendampingan keluarga yang nantinya bisa direplikasi ke seluruh wilayah NTB. Kolaborasi antara TP PKK Provinsi NTB, kader Posyandu, dan The Gentle Care Foundation Indonesia ini diyakini mampu memperkuat kapasitas keluarga dalam menyelesaikan persoalan secara mandiri, sebuah fondasi penting untuk melahirkan generasi NTB yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
(*)


