
Penutup gerai Mi Gacoan Kota Bima, imbas karyawan melakukan aksi protes dan mengamuk setelah mengklaim bekerja tanpa menerima gaji sepeser pun sejak gerai tersebut beroperasi.
Kota Bima, KabarNTB - Pembukaan gerai Mi Gacoan di Kota Bima yang semarak akhir Desember 2025 ternyata menyisakan masalah serius. Puluhan karyawan melakukan aksi protes dan mengamuk setelah mengklaim bekerja tanpa menerima gaji sepeser pun sejak gerai tersebut beroperasi. Aksi ini sempat membuat restoran tutup selama dua hari.
Karyawan: Janji Manajemen Tak Pernah Terealisasi
Salah satu karyawan, Mufaris, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyatakan manajemen selalu berjanji gaji akan cair, namun hingga kini belum ada realisasi.
"Manajer selalu janji hari ini gaji cair, tapi sampai sekarang nihil," ujar Mufaris di area parkir Mi Gacoan Kota Bima, Selasa (3/2).
Yeni Suwanti, karyawan lain, mengeluh telah bekerja hampir dua bulan tanpa menerima gaji, meski harus bolak-balik Wera–Kota Bima untuk menjaga kedisiplinan kerja.
"Hampir dua bulan kerja, gaji belum kami terima. Padahal kami masuk terus," keluh Yeni.
Ironi Aturan Ketat vs Hak Dasar yang Diabaikan
Para karyawan menceritakan ironi aturan perusahaan yang sangat ketat—terlambat satu menit langsung kena potongan gaji—namun hak dasar mereka justru diabaikan. Bahkan seragam kerja harus dibeli sendiri oleh karyawan dengan potongan Rp200 ribu dari gaji yang tak kunjung dibayar.
Mereka menyebut sedikitnya 12 orang belum menerima gaji sama sekali, sementara sebagian lain hanya dibayar tidak penuh dengan berbagai alasan seperti absensi dan sistem internal.
Manajemen Bantah dan Sebut Kendala Sistem
Direktur Usaha “ME Gacoan” Kota Bima di bawah PT Mitra Balisukses, Andi Ilham, membantah adanya penahanan gaji. Ia menyebut operasional dimulai 28 Desember 2025 dengan sistem penggajian menggunakan "by sistem" dan aplikasi Talenta.
"Bukan tidak digaji, tapi ada kendala struktur sistem. Pembayaran tetap kami proses melalui rekening karyawan," ujar Ilham.
Menurutnya, keterlambatan terjadi karena sebagian karyawan terlambat mengajukan data atau tidak memperbaiki absensi. Ia juga menyebut gaji awal masa pelatihan sekitar Rp1,8 juta dan akan normal setelah tiga bulan.
Namun, klaim ini dibantah karyawan yang merasa terus dipingpong dengan alasan teknis. Kasus ini mengungkap sisi gelap ekspansi bisnis kuliner besar ke daerah, di mana kesejahteraan pekerja kerap terabaikan.
(*)
.png)