![]() |
| Muh. Fakhrurozi Julkarnain, siswa SMPN 1 Dompu, tampil membawakan komedi tunggal dalam Bahasa Mbojo pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi NTB 2026. |
Dompu, KabarNTB - Seorang siswa kelas satu SMPN 1 Dompu berhasil mengharumkan nama kabupaten di pentas provinsi. Muh. Fakhrurozi Julkarnain meraih juara kedua mata lomba komedi tunggal Bahasa Mbojo tingkat SMP dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2026, yang digelar pada 3 hingga 5 November 2026 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTB.
Ajang Pelestarian Bahasa Daerah Tingkat Provinsi
Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan ajang kompetisi yang secara khusus mempertandingkan kemampuan pelajar dalam menguasai dan mengekspresikan bahasa daerah. Untuk wilayah NTB, salah satu bahasa yang dilombakan adalah Bahasa Mbojo, bahasa ibu masyarakat Bima dan Dompu. Ajang ini diselenggarakan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat provinsi.
Fakhrurozi, yang merupakan putra dari Rangga Iskandar Julkarnain, Kepala Pelaksana Baznas Kota Bima, tampil di kategori komedi tunggal dan berhasil menembus jajaran dua besar terbaik se-NTB.
Kepala Sekolah Berharap Siswa Makin Cinta Bahasa Mbojo
Prestasi ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SMPN 1 Dompu, Drs. Edy Suryansah, menyampaikan apresiasinya sekaligus harapan agar momen kompetisi ini menjadi pendorong kecintaan siswa terhadap bahasa daerah mereka.
"Selamat kepada seluruh siswa-siswi yang sudah meraih prestasi pada kegiatan lomba Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Mudah-mudahan dengan diadakannya lomba ini, siswa-siswi semakin cinta dengan Bahasa Mbojo," ujar Edy Suryansah, Kepala SMPN 1 Dompu.
Orang Tua Apresiasi Penyelenggaraan FTBI
Rangga Iskandar Julkarnain, S.Pd.I, M.Pd., selaku orang tua Fakhrurozi sekaligus Kepala Pelaksana Baznas Kota Bima, turut menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Dukungan dari kalangan orang tua seperti ini dinilai penting untuk mendorong partisipasi pelajar dalam upaya pelestarian bahasa daerah di tengah arus modernisasi.
(*)

