![]() |
| Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto alias Didu saat menyampaikan pandangannya mengenai tantangan aktivis pergerakan di era kecerdasan buatan dan digitalisasi. |
Mataram, KabarNTB - Di tengah derasnya arus teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan budaya serba instan yang kian mendominasi ruang digital, aktivis pergerakan di Nusa Tenggara Barat dinilai perlu membentengi diri dengan tradisi membaca buku secara mendalam. Tanpa fondasi referensi yang kuat, gerakan advokasi berisiko kehilangan orisinalitas gagasan dan kedalaman analisis.
Bahaya Ketergantungan pada Sumber Tunggal Digital
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, menegaskan bahwa kecepatan teknologi AI dalam mengagregasi data secara praktis tidak boleh dijadikan satu-satunya rujukan informasi bagi para aktivis. Kemudahan akses digital justru menyimpan jebakan berupa kebenaran tunggal yang belum tentu terverifikasi secara valid.
"Aktivis pergerakan perlu rajin kembali membaca buku/text book untuk memperkaya khasanah ilmu dan analisis yang mendalam," ujar Didu, sapaan akrab Bambang Mei Finarwanto, Kamis 5 November 2026.
Menurut Didu, aktivis pergerakan NTB yang tidak memiliki referensi kuat akan mudah dipandang sebelah mata oleh pihak yang berbeda pandangan. Referensi yang solid, katanya, menjadi sumber gagasan alternatif yang tak tergantikan dalam menjalankan advokasi kemanusiaan secara efektif.
Ruang Kajian dan Diskusi Harus Diperbanyak
Didu menilai semangat perjuangan aktivis perlu diasah secara konsisten melalui forum-forum intelektual yang membedah persoalan secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong.
"Ruang kajian dan diskusi harus diperbanyak untuk menebalkan letupan semangat perjuangan dalam membedah permasalahan secara holistik dan tidak parsial," tandasnya.
Ia menambahkan, era pragmatisme dan kemudahan akses informasi di era 4.0 tidak boleh membuat aktivis terlena. Keterlenaaan pada kemudahan digital itu, menurut Didu, berpotensi menjebak gerakan pada simpulan-simpulan dangkal yang jauh dari akar persoalan sesungguhnya.
"Untuk itu, tradisi membaca guna mengimbangi budaya oral lewat buku-buku pencerahan yang kaya norma dalam menganalisis setiap problem kebijakan dengan data kajian yang valid dan terukur, agar tercipta solusi alternatif," urai Didu.
Minat Baca Menurun, Gagasan Pun Melemah
Didu menyoroti kecenderungan yang mengkhawatirkan: gempuran teknologi AI dan berbagai platform digital membuat minat membaca buku secara konvensional terus merosot. Dampaknya langsung terasa pada soliditas ide dan orisinalitas gagasan yang dihasilkan para aktivis.
"Hal ini bisa tercermin dari maraknya aksi-aksi yang tidak populis serta tidak menyentuh akar permasalahan utama sebagai bahan kajian," imbuhnya.
Aktivis Perlu Siapkan Konsep Tandingan
Pada bagian akhir, Didu menekankan pentingnya konsep alternatif sebagai second opinion yang dapat menjadi pembanding kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
"Konsep tandingan ini penting agar menjadi pegangan pengambil kebijakan dalam menelaah atau mengkritik kebijakan yang salah tersebut," pungkas Didu.
(*)

