![]() |
| Aktivitas rekonstruksi di Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, yang terus berjalan setelah kebakaran melanda kawasan itu pada 22 Agustus 2026. |
Lombok Tengah, KabarNTB - Pemulihan Dusun Adat Sade pascakebakaran Agustus 2026 terus bergerak. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan target ambisius: seluruh pekerjaan rekonstruksi kawasan adat di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah itu rampung sebelum tutup tahun, akhir Desember 2026. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, H. Lalu Mohamad Faozal, menyampaikan hal ini saat meninjau langsung perkembangan pembangunan di Sade, Sabtu (17/10/2026).
Diawali Tradisi Nyemulak, Gotong Royong Jadi Tulang Punggung
Proses rekonstruksi secara resmi dimulai pada 3 September 2026 melalui tradisi Nyemulak, yakni prosesi pemasangan tiang pertama rumah adat dan Masjid Sade yang dilangsungkan berdasarkan musyawarah warga. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri hadir langsung dalam prosesi tersebut, menegaskan komitmen pemerintah untuk menghormati nilai dan tata cara budaya masyarakat setempat dalam setiap langkah pembangunan.
Berdasarkan pembaruan lapangan per 15 Oktober 2026, sekitar 45 rumah adat telah mulai dibangun secara bertahap melalui gotong royong warga dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Pembangunan fasilitas bersama, termasuk masjid dan museum, juga tengah berlangsung. Pemetaan kebutuhan lanjutan masih terus dilakukan menyesuaikan kondisi masing-masing bangunan dan keluarga terdampak.
Satgas Khusus Koordinasikan Seluruh Dukungan
Untuk memastikan penanganan berjalan terarah, Pemprov NTB membentuk Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Dusun Adat Sade melalui Keputusan Gubernur NTB Nomor 100.3.3.1-400 Tahun 2026 tertanggal 26 Agustus 2026. Satgas ini mengoordinasikan kebutuhan pembangunan, penataan kawasan, pemulihan sosial dan ekonomi, pelestarian budaya, hingga pengelolaan bantuan agar tidak tumpang tindih.
"Pemulihan Sade bukan semata-mata membangun kembali bangunan yang terbakar. Kita ingin kehidupan masyarakat kembali pulih, aktivitas ekonomi bergerak, dan warisan budaya tetap terjaga. Karena itu, seluruh dukungan harus dikelola secara terpadu agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujar Faozal.
Pusat dan Swasta Ikut Ambil Bagian
Dukungan tidak hanya datang dari pemerintah daerah. Di tingkat pusat, Kementerian Kebudayaan memberikan perhatian pada rekonstruksi rumah adat dan penataan kawasan, sementara Kementerian Pariwisata menyalurkan bantuan peralatan usaha bagi pelaku UMKM, perajin tenun, dan pengrajin non-tenun guna memulihkan penghidupan warga. ITDC turut mengoordinasikan dukungan dari ekosistem BUMN dan kawasan Mandalika. Sejumlah perusahaan, lembaga, komunitas, perguruan tinggi, serta donatur juga berkontribusi melalui berbagai bentuk bantuan sosial dan pemulihan ekonomi.
Faozal menekankan bahwa percepatan pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur pendukung seperti air bersih, sanitasi, pengelolaan lingkungan, dan sistem pencegahan kebakaran. Karakter arsitektur rumah adat wajib dipertahankan, dan keselamatan penghuni menjadi prioritas yang tidak bisa dikesampingkan.
Target Akhir Tahun, Identitas Budaya Tetap Utama
"Semangat gotong royong yang tumbuh di Sade adalah modal besar untuk bangkit. Pemerintah bersama seluruh mitra akan terus memperkuat koordinasi dan mengawal kebutuhan rekonstruksi. Harapan kita, pada akhir Desember 2026, seluruh pekerjaan yang direncanakan dapat dituntaskan sehingga masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, kegiatan ekonomi pulih, dan identitas budaya Sade tetap lestari," pungkas Faozal.
(*)

