![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, H. Ahmad |
Kota Bima, KabarNTB - Angka kasus HIV/AIDS di Kota Bima terus menjadi sorotan setelah dilaporkan melampaui 90 kasus hingga Oktober 2026. Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan setempat untuk mempertegas komitmen dalam penguatan edukasi, pencegahan, dan akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, Senin (19/10/2026).
Tantangan Pengendalian Penyakit Menular
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, H. Ahmad, mengakui bahwa jumlah kasus yang terus tercatat menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi pemerintah daerah. Pengendalian penyakit menular seksual seperti HIV membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak sekadar penanganan medis semata.
Secara epidemiologis, penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko, paparan darah yang terinfeksi, maupun penularan dari ibu kepada anak. Penularan tidak ditentukan oleh identitas atau latar belakang profesi seseorang, melainkan oleh perilaku dan faktor risiko yang melekat pada setiap individu.
Masyarakat Diimbau Waspadai Faktor Risiko
Dinas Kesehatan Kota Bima mengimbau seluruh lapisan masyarakat, termasuk pasangan suami istri dan keluarga, untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemahaman yang benar tentang cara penularan HIV dinilai menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penyebaran.
Bagi warga yang merasa memiliki faktor risiko, menjalani voluntary counseling and testing atau tes HIV secara sukarela sangat dianjurkan. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif sekaligus mencegah penularan lebih lanjut kepada orang-orang terdekat.
Edukasi Tanpa Stigma, Kunci Penanganan Efektif
Selain HIV/AIDS, edukasi mengenai infeksi menular seksual lainnya juga perlu diperluas hingga ke tingkat komunitas dan keluarga. Dinas Kesehatan diharapkan memastikan bahwa informasi yang beredar di tengah masyarakat berbasis data medis yang akurat, bukan dibangun di atas stigma terhadap kelompok tertentu.
Pendekatan berbasis empati dan informasi yang tepat diyakini jauh lebih efektif dalam mendorong masyarakat untuk secara aktif memeriksakan diri dan mengakses layanan pengobatan yang tersedia di fasilitas kesehatan setempat.
(*)

