![]() |
| Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Dasar 4 Lombok Barat mengikuti kegiatan belajar di lingkungan sekolah yang berlokasi sementara di SKB Gunungsari, Selasa (20/10/2026). |
Lombok Barat, KabarNTB - Rima Pidiawati baru pertama kali menginjakkan kaki di ruang kelas ketika ia duduk di bangku kelas VI. Bukan karena tak mau, melainkan karena kemiskinan memutus jalan itu jauh sebelum ia sempat mencoba. Kini, melalui Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 4 Lombok Barat, Rima bukan sekadar belajar membaca dan menulis, ia juga menemukan teman, merasakan diterima, dan untuk pertama kalinya berani menyebut cita-cita dengan lantang.
Pertama Kali Merasakan Bangku Sekolah
Rima mengaku tak pernah mengenyam pendidikan sebelumnya. Keterbatasan biaya menjadi tembok yang selama bertahun-tahun menghalanginya dari hal yang dinikmati anak-anak sebayanya.
"Kalau di rumah saya tidak pernah sekolah, tidak ada biaya. Berarti sekolahnya baru pas di sini, Sekolah Rakyat," ujar Rima saat diwawancarai di lingkungan sekolah, Selasa (20/10/2026).
Perubahan yang ia rasakan bukan hanya soal buku dan seragam. Rima menemukan sesuatu yang lebih dalam, yakni rasa memiliki. Di kampungnya, ia kerap diejek karena tidak pernah bersekolah. Di sini, ia punya teman yang menerimanya.
"Alhamdulillah, di sini merasa senang. Karena banyak teman yang sudah suka sama saya. Kalau di rumah tidak ada teman sendiri, soalnya diejek karena tidak pernah sekolah," tuturnya.
Kepercayaan diri yang tumbuh perlahan itu kini berbuah cita-cita. Rima ingin menjadi guru atau polisi wanita, dan yang paling ia inginkan adalah membahagiakan kedua orang tuanya.
Orang Tua Tak Lagi Khawatir
Cerita serupa datang dari Muhammad Alwi Sanjaya, siswa kelas V asal Kuripan. Ayahnya bekerja di Kalimantan, ibunya di Arab Saudi. Alwi tumbuh bersama nenek dan saudaranya, dan situasi keluarga semakin berat setelah sang kakek berpulang.
Di Sekolah Rakyat, kebutuhan harian Alwi kini tercukupi. Makan tiga kali sehari, pakaian, perlengkapan belajar, hingga pendampingan wali asuh dan wali asrama tersedia untuknya.
"Kalau di Sekolah Rakyat sudah ditanggung makan, pakaian, semua ditanggung. Semenjak masuk sini, ibu saya dan orang tua saya tidak terlalu repot sama saya dan tidak terlalu khawatir karena di sini kita sudah dididik oleh wali asuh dan wali asrama," kata Alwi.
Kehidupan berasrama mengubah ritme anak-anak ini secara menyeluruh. Proses belajar tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Mereka belajar hidup bersama, membangun kebiasaan, dan mengurus kebutuhan diri secara mandiri.
Pendekatan Khusus untuk Anak-Anak Istimewa
Guru kelas II B, Lulu Qolbuani, S.Pd., menyadari bahwa mengajar di Sekolah Rakyat menuntut pendekatan yang berbeda. Sebagian siswa datang dengan ketertinggalan belajar yang cukup jauh, sebagian lain membawa luka sosial yang membuatnya sulit berinteraksi.
"Awalnya agak kaget. Ternyata anak-anak di Sekolah Rakyat ini butuh perlakuan yang lebih khusus. Tenaga kita harus lebih ekstra dalam mendidik," ujar Lulu.
Ia menceritakan seorang siswa berusia sembilan tahun yang semula ditempatkan di kelas III berdasarkan usianya, namun kesulitan mengikuti pelajaran. Sekolah akhirnya memindahkannya ke kelas I agar fondasi belajarnya bisa dibangun dari awal. Hasilnya tidak mengecewakan.
"Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bermain dan bercanda dengan temannya. Dari sosialisasinya juga sudah bagus, anaknya ceria," kata Lulu.
Wali asuh Ni Wayan Septia Ningsih menempuh jalan yang sama, yakni sabar dan konsisten. Ia mendampingi seorang anak yang sebelumnya cenderung menyendiri dan mudah meledak emosinya. Melalui komunikasi yang hangat dan bertahap, anak itu perlahan membuka diri.
"Perkembangannya bagus. Dari yang tadinya suka berdiam diri dan marah-marah, kemudian mau mengungkapkan perasaan dan meminta maaf, walaupun melalui surat dulu," ujar Ni Wayan.
Program Presiden untuk Memutus Rantai Kemiskinan
Kepala SRD 4 Lombok Barat, Lilik Fadlilah, M.Pd., menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin sekaligus memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Sasaran program adalah keluarga pada kelompok kesejahteraan desil 1 dan 2.
Saat ini, SRD 4 Lombok Barat menampung 100 siswa jenjang sekolah dasar dari berbagai kecamatan di Lombok Barat. Seluruh kebutuhan dasar siswa ditanggung, mulai seragam, sepatu, perlengkapan belajar, asrama, hingga makan tiga kali sehari ditambah dua kali makanan selingan.
Program ini juga menyentuh pembentukan karakter. Sekolah menjalin kolaborasi dengan Kadet Universitas Pertahanan, menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi untuk edukasi integritas, hingga mengajak siswa berlatih keterampilan seperti membuat es krim. Hasilnya mulai tampak: seorang siswa berhasil meraih juara III Olimpiade Matematika tingkat Provinsi NTB dan mendapat medali perunggu, sekaligus diundang ke Bogor untuk bergabung dengan para finalis dari seluruh Indonesia.
Bermimpi Jadi Penulis, Peduli Lingkungan
Sabrina Aulia Putri, siswi kelas VI, menyampaikan rasa syukurnya dengan sederhana namun penuh makna.
"Menurut saya, Sekolah Rakyat ini bagus banget. Alhamdulillah bisa masuk. Kita dididik dengan sangat baik. Kita tidak usah beli apa-apa, semuanya diberikan oleh Sekolah Rakyat," ujarnya.
Sabrina bercita-cita menjadi penulis sekaligus pengusaha. Ia ingin membanggakan orang tuanya, dan mulai menaruh perhatian serius pada persoalan lingkungan, dari pengelolaan sampah hingga ancaman banjir.
Kisah Rima, Alwi, Sabrina, dan anak-anak lain di SRD 4 Lombok Barat memperlihatkan bahwa dampak nyata Sekolah Rakyat tidak cukup diukur dari jumlah siswa yang diterima atau fasilitas yang tersedia. Yang paling berarti adalah perubahan yang terjadi dalam diri mereka: anak yang belum pernah sekolah kini berani belajar, anak yang tersisih kini menemukan teman, dan anak yang dulu tak tahu harus bermimpi apa kini tahu persis ke mana ia ingin melangkah.
(*)

