Bima, KabarNTB - Insiden tawuran antarpelajar SMAN 1 Lambu yang pecah pada Sabtu, 19 September 2026, berbuntut panjang di ruang digital. Kehadiran Brigadir Sahrudin, S.H. di lokasi kejadian menjadi sorotan setelah sejumlah narasi berkembang di media sosial, sebagian di antaranya dinilai tidak menggambarkan rangkaian peristiwa secara utuh. Klarifikasi pun dilayangkan melalui akun Facebook Litha Mariskha, yang menyajikan kronologi versi Sahrudin sekaligus membantah tafsir sepihak yang beredar.
Unggahan Berisi Bantahan dan Seruan Objektivitas
Pemilik akun Facebook Litha Mariskha secara eksplisit menyebut beberapa nama, yakni Imam Plur, Nas Kalate Jr., Gerhana II, dan Mirwansyah Alan Terate, dan meminta mereka tidak membangun opini sebelum memiliki informasi yang lengkap. Menurut Litha, persoalan tawuran pelajar semestinya tidak dijadikan celah untuk membawa isu-isu lain di luar peristiwa itu sendiri.
"Yang kita butuhkan saat ini bukan saling menyudutkan, apalagi menggiring opini, melainkan sikap yang objektif, informasi yang berimbang, serta komitmen bersama untuk mencari akar persoalan dan mencegah tawuran pelajar kembali terjadi," demikian inti pesan yang tertuang dalam unggahan Litha.
Litha juga menegaskan bahwa maraknya tawuran antarpelajar di wilayah Bima tidak lagi memadai jika sekadar dibaca sebagai kenakalan remaja biasa. Menurutnya, fenomena ini sudah menyentuh dimensi sosial yang lebih serius karena mengancam keselamatan, mengganggu ketertiban umum, dan berdampak langsung pada masa depan para pelajar.
Kronologi: Sahrudin Klaim Datang Setelah Mendengar Teriakan Warga
Berdasarkan kronologi yang disampaikan dalam klarifikasi tersebut, pada sekitar pukul 08.30 WITA, Brigadir Sahrudin sedang berada di sarangge kolong rumah panggung yang berjarak sekitar 100 meter dari Lapangan Desa Rato, tepat di depan SMAN 1 Lambu. Ia kemudian mendengar teriakan warga yang memberitahukan adanya tawuran, lalu bergerak menuju lokasi dan mendapati sekitar 70 siswa tengah terlibat aksi saling serang.
Setibanya di sana, sejumlah guru SMAN 1 Lambu disebut langsung meminta bantuannya untuk melerai. Sahrudin pun berupaya menghentikan aksi dengan mengimbau para siswa agar mundur. Namun sekelompok siswa dari arah selatan tetap maju sambil membawa kayu dan melemparkan batu.
Dalam upaya peleraian itulah Sahrudin disebut terkena pukulan bambu atau sari pada bagian tangan dan punggung. Situasi yang semakin tidak terkendali disebutkan membuatnya secara spontan menggunakan helm yang sedang dikenakannya untuk menghalau siswa yang masih menyerang. Tawuran sempat mereda, namun kembali pecah hingga dua kali lagi sebelum akhirnya berhasil dihentikan pada upaya peleraian ketiga.
Bantahan: Bukan Pemicu, Melainkan Pelerai
Pihak yang menyampaikan klarifikasi menegaskan bahwa kehadiran Sahrudin di lokasi sama sekali bukan sebagai pihak yang memulai atau memicu tawuran. Ia disebut datang atas inisiatif sendiri setelah mendengar teriakan warga, lalu memenuhi permintaan guru untuk membantu menghentikan aksi. Adapun penggunaan helm, menurut kronologi tersebut, merupakan respons spontan dalam situasi yang belum dapat dikendalikan, bukan tindakan agresif yang terencana.
Klarifikasi itu juga menyoroti bahwa potongan video dan foto yang beredar di media sosial berpotensi melahirkan persepsi yang keliru apabila tidak dilihat bersama konteks sebelum dan sesudahnya. Pihak yang memberikan klarifikasi menyatakan kondisi Sahrudin dan seorang pelajar yang sebelumnya disebut sebagai korban menunjukkan gambaran berbeda dari narasi yang ramai diperbincangkan.
Verifikasi Tetap Diperlukan
KabarNTB menegaskan bahwa seluruh kronologi di atas merupakan versi klarifikasi dari pihak yang bersangkutan. Ada atau tidaknya pelanggaran dalam peristiwa ini tetap harus dibuktikan melalui fakta, keterangan saksi, barang bukti, serta proses pemeriksaan oleh aparat berwenang. Pernyataan dari pihak-pihak yang berseberangan pandangan pun belum dapat dikonfirmasi secara independen hingga berita ini diturunkan.
Yang tidak terbantahkan adalah fakta bahwa puluhan pelajar terlibat dalam aksi saling serang di depan sekolah, dan ini bukan kali pertama tawuran terjadi di wilayah Bima. Perhatian publik semestinya tidak berhenti pada polemik kehadiran seorang anggota kepolisian di lokasi, melainkan juga diarahkan pada langkah konkret pencegahan agar peristiwa serupa tidak terus berulang dan masa depan para pelajar tidak terus terancam.
(*)

