
Cita Sugesti Wulandari, pengawas gizi SPPG Bima Sanggar Kore, resmi mengundurkan diri dari jabatannya lewat surat pernyataan yang ditujukan kepada Kepala Badan Gizi Nasional.
Bima, KabarNTB - Di tengah polemik rotasi kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, seorang pengawas gizi program Makan Bergizi Gratis resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Cita Sugesti Wulandari, yang bertugas di SPPG Bima Sanggar Kore, menyatakan mundur melalui surat pernyataan tertanggal 7 September 2026 yang ditujukan langsung kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Alasan Resmi: Kendala Waktu dan Jadwal Pribadi
Dalam surat pernyataannya, Cita menyebut ketidakselarasan antara jadwal pribadinya dan tuntutan operasional program sebagai alasan utama keputusan tersebut. Perempuan kelahiran Bima, 4 Mei 1994, yang beralamat di Dusun Doro To'i, Desa Taloko, Kecamatan Sanggar ini sebelumnya ditempatkan di SPPG Bima Sanggar Kore berdasarkan surat penempatan Nomor 63406.1.2026 KABAN.
"Melalui surat pernyataan ini, saya menyatakan mengundurkan diri dari tugas dan jabatan saya sebagai pengawas gizi di SPPG Bima Sanggar Kore karena adanya hambatan waktu dan jadwal pribadi yang tidak sejalan dengan pelaksanaan operasional program MBG," demikian Cita dalam surat pernyataannya.
Cita juga menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil atas kesadarannya sendiri.
"Demikian surat pengunduran diri ini saya buat dengan kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun," tulis Cita dalam surat yang sama.
Rotasi Mendadak yang Memunculkan Pertanyaan
Pengunduran diri Cita tidak terjadi dalam ruang kosong. Pada periode yang sama, Kepala SPPG Sanggar Oi Saro, Ilham Jauharis, mengungkapkan bahwa dirinya tiba-tiba tidak lagi menjabat di posisi tersebut. Ilham menilai proses rotasi itu berlangsung tanpa penjelasan memadai dari pimpinan BGN dan patut dipertanyakan dasarnya.
"Rotasi tidak jelas dan tanpa ada keterangan dari pimpinan BGN dan cenderung bermuara pada kepentingan mitra dan yayasan," ungkap Ilham Jauharis.
Ilham turut menyoroti kondisi para pengawas gizi yang menurutnya menghadapi tekanan dalam menjalankan tugas di lapangan.
"Begitupun pengawas gizi yang ditekan, diintervensi dan tidak dihargai oleh pihak mitra," katanya.
Dugaan Keterkaitan Masih Perlu Penjelasan
Meski pengunduran diri Cita dan polemik rotasi kepala SPPG terjadi dalam waktu bersamaan, surat resmi Cita tidak menyebutkan sedikit pun soal tekanan, intervensi, maupun perselisihan dengan pihak mitra atau yayasan sebagai alasan kepergiannya. Karena itu, dugaan keterkaitan antara dua peristiwa ini masih membutuhkan penjelasan dari pihak-pihak berwenang, terutama BGN, mitra pelaksana, dan pengelola SPPG.
Publik kini menunggu keterbukaan BGN soal dasar dan mekanisme rotasi personel SPPG, sekaligus kepastian bahwa fungsi pengawasan gizi dalam program MBG di Kecamatan Sanggar tetap berjalan secara profesional dan independen, tidak terpengaruh kepentingan pihak luar.
(*)
