![]() |
| Fernando bersama sejumlah tokoh berupaya membangun ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan yang melibatkan JF secara damai dan kekeluargaan. |
Bima, KabarNTB - Upaya mediasi damai dalam persoalan yang melibatkan JF ternyata bukan baru sekali dilakukan. Dilansir dari mimbarntb.com, sejumlah pihak telah berulang kali berinisiatif membuka ruang dialog guna mencari jalan keluar secara kekeluargaan, meski hingga kini belum membuahkan hasil lantaran JF disebut tidak hadir dalam beberapa agenda pertemuan yang telah disepakati.
Dua Kali Menunggu di Rabakodo, JF Tak Kunjung Hadir
Fernando menjelaskan bahwa rangkaian upaya mediasi ini sudah berlangsung cukup panjang. Setidaknya dua kali pertemuan telah direncanakan dan pihaknya menunggu kehadiran JF di Rabakodo setelah sebelumnya ada kesepakatan untuk bertemu. Namun kehadiran yang ditunggu itu tak terwujud.
Salah satu agenda mediasi dijadwalkan pada Minggu, 21 Desember 2025, selepas salat Ashar. Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Hj. Mahdalena, Habib Hamdan, dan Fernando sebagai pihak yang berusaha membuka saluran komunikasi di antara para pihak yang berkepentingan. Sifatnya persuasif: mengklarifikasi persoalan, mendengarkan keterangan masing-masing pihak, lalu bersama-sama mencari kemungkinan penyelesaian yang bijaksana.
Namun agenda itu pun akhirnya tidak terlaksana. JF kembali tidak hadir, dengan alasan kondisi hujan yang turun saat itu.
Fernando: Fakta Jangan Dipotong-potong
Fernando menilai penting untuk menyampaikan kronologi secara menyeluruh agar tidak timbul kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Jangan sampai fakta mengenai upaya mediasi dipotong-potong sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda dari kejadian sebenarnya," ujar Fernando.
Menurutnya, sebuah persoalan yang masih memiliki ruang penyelesaian melalui dialog tidak seharusnya berubah menjadi pertarungan opini akibat informasi yang tidak lengkap. Sebelum mengambil kesimpulan atau melontarkan tudingan ke publik, seluruh pihak diminta mencermati rangkaian peristiwa secara utuh: kapan pertemuan direncanakan, siapa yang menginisiasi, siapa yang hadir, siapa yang tidak, dan alasan apa yang disampaikan.
"Publik berhak memperoleh informasi yang benar, utuh dan berimbang. Perbedaan pandangan dalam sebuah persoalan merupakan sesuatu yang wajar, tetapi informasi yang tidak lengkap dapat memperkeruh keadaan dan mengaburkan substansi persoalan," katanya.
Pintu Damai Masih Terbuka
Meski berbagai upaya belum membuahkan pertemuan yang diharapkan, Fernando menegaskan bahwa pintu penyelesaian secara damai sebenarnya sudah dibuka sejak awal. Ia mengajak semua pihak untuk bersikap proporsional dan mengedepankan kepala dingin, karena perbedaan pandangan tidak harus berujung pada permusuhan.
"Kalau masih ada ruang untuk duduk bersama, dialog semestinya dikedepankan. Menyelesaikan persoalan dengan kebenaran jauh lebih bermartabat daripada memenangkan opini dengan informasi yang tidak utuh," pungkas Fernando.
Ia menekankan bahwa kebenaran tidak membutuhkan narasi yang direkayasa. Cukup disampaikan berdasarkan fakta, kronologi, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Upaya mediasi yang telah berulang kali dilakukan itu diharapkan menjadi jalan untuk meredakan ketegangan sekaligus memastikan persoalan diselesaikan secara bermartabat.
(*)

