
Kepala Pelaksana Baznas Kota Bima, Rangga Iskandar Julkarnain, mendorong generasi muda untuk aktif terlibat dalam gerakan zakat, infak, dan sedekah melalui program GENZIS.
Kota Bima, KabarNTB - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas Kota Bima) meluncurkan pendekatan baru untuk menarik keterlibatan anak muda dalam gerakan sosial. Melalui program Gerakan Zakat, Infak dan Sedekah atau GENZIS, lembaga ini mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku aktif dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
Semangat Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya
Kepala Pelaksana Baznas Kota Bima, Rangga Iskandar Julkarnain, menegaskan bahwa kepedulian sosial tidak perlu menunggu kondisi mapan secara finansial. Menurutnya, kemauan untuk berbagi jauh lebih penting dari besaran nominalnya, dan semangat itu semestinya ditanamkan sejak dini.
"Saatnya kita yang muda bergerak untuk membantu saudara kita yang kurang beruntung dengan berinfak dan sedekah," ujar Rangga, Sabtu (12/9/2026).
Ia menilai generasi muda memiliki energi dan jaringan sosial yang besar, sehingga potensi mereka dalam menggerakkan solidaritas masyarakat sangat signifikan jika diarahkan dengan baik.
Edukasi Kanal Resmi Jadi Kunci
Selain menggerakkan semangat berbagi, GENZIS juga menargetkan peningkatan literasi masyarakat soal mekanisme penyaluran zakat, infak dan sedekah yang tepat sasaran. Baznas Kota Bima menekankan pentingnya masyarakat memahami lembaga resmi yang berwenang mengelola dana sosial tersebut.
"Yang paling penting, kita memberikan edukasi tentang tempat membayar zakat, infak dan sedekah, yaitu di Baznas Kota Bima," tegasnya.
Rangga berharap pemahaman ini mencegah dana sosial dari masyarakat tersalurkan ke kanal yang tidak akuntabel, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga zakat resmi.
GENZIS Diharapkan Tumbuh Jadi Gerakan Budaya
Baznas Kota Bima tidak ingin GENZIS berhenti pada tataran program semata. Rangga berharap inisiatif ini berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan pelajar, komunitas pemuda, dan berbagai elemen masyarakat lainnya secara berkelanjutan.
Dengan semakin luasnya partisipasi anak muda, Baznas optimistis bahwa kepedulian sosial dapat bertransformasi menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kota Bima, bukan sekadar kewajiban ritual yang dijalankan setahun sekali.
(*)
