
Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy bersama Direktur RSUD Bima drg. H. Ihsan bersilaturahmi ke rumah duka keluarga almarhum M. Alfa Firdaus di Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kamis (23/7/2026)
Bima, KabarNTB - Duka mendalam masih menyelimuti keluarga di Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. M. Alfa Firdaus, bocah berusia 11 tahun, meninggal dunia di tengah perjalanan rujukan menuju RSUD Provinsi NTB di Mataram pekan lalu, yang disebut keluarga akibat kehabisan oksigen saat proses evakuasi berlangsung. Menanggapi hal ini, Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy bersama Direktur RSUD Bima drg. H. Ihsan mendatangi langsung rumah duka, Kamis (23/7/2026).
Wabup Jelaskan Sisi Medis Cedera Kepala
Di hadapan orang tua dan keluarga almarhum, dr. Irfan menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus menjelaskan dari sisi medis bahwa luka yang dialami Alfa tergolong sangat berat.
"Saya kan dokter ya. Sebenarnya kebutuhan oksigen itu sudah cukup. Hanya saja karena luka bagian kepala yang cukup berat perlu ada tambahan oksigen. Tanpa tambahan oksigen pun sebenarnya sudah cukup. Terkecuali ada gangguan pernafasan seperti orang Kista, orang Asma, nah itu perlu," jelas dr. Irfan.
Ia menerangkan bahwa akar persoalan sesungguhnya adalah trauma kepala yang mengakibatkan pendarahan di bagian tersebut.
"Misalnya kalau ada pendarahan ditangan, kulit kita ke lentur. Kalaupun ada penambahan darah dia bisa membuka ruang. Sementara di kepala ini keras. Jika ada pendarahan, di bagian Batok kepala ini tidak bisa berkembang. Sehingga dia menekan semua pusat pernafasan. Jadi pusat pernafasan itu di otak. Itu sumber utama yang sebenarnya," terang dr. Irfan.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan pihak rumah sakit agar bekerja semaksimal mungkin ke depan.
"Tetap juga menjadi pembelajaran teman-teman rumah sakit. Lain kali tidak boleh seperti itu. Harus tetap memastikan ketersediaan oksigen. Tapi mohon maaf, bukan berarti saya menjustifikasi ya," pesan dr. Irfan.
Oknum Nakes Pendamping Sudah Dinonaktifkan
Sementara itu, Direktur RSUD Bima, drg. H. Ihsan, turut menyampaikan belasungkawa sekaligus permintaan maaf atas apa yang dialami almarhum selama proses penanganan hingga rujukan ke Mataram.
"Sebenarnya kami dari pihak rumah sakit SOPnya sudah benar. Yang namanya manusia tidak luput dari khilaf dan sebagainya. Atas peristiwa itu, kami minta maaf," ucap dr. Ihsan.
Ia menjelaskan bahwa tenaga kesehatan (nakes) yang mendampingi korban telah dinonaktifkan sejak peristiwa tersebut terjadi, sebagai bagian dari proses evaluasi.
"Untuk oknum Nakesnya supaya ada efek jera, begitu ada kejadian kami langsung nonaktifkan. Paling lama sebulan sembari kami evaluasi kembali seperti apa kronologinya," jelasnya.
Janji Tata Ulang Prosedur Rujukan Pasien
Dr. Ihsan mengaku telah memerintahkan seluruh pihak terkait untuk menelusuri kembali proses rujukan yang terjadi, mulai dari penanggung jawab, ketersediaan petugas, hingga kompetensi dan level petugas yang seharusnya mendampingi pasien dengan kondisi serupa.
"Kompetensinya seperti apa dalam menangani pasien seperti ini kemudian petugas yang level apa yang boleh mendampingi. Jadi, harapan keluarga korban supaya tidak ada lagi Alfa-Alfa yang lain, insya Allah kami akan antisipasi semua dan menata kembali," pungkas dr. Ihsan.
(*)
