Mataram, KabarNTB - Ada warga NTB yang pengeluaran bulanannya tak sampai Rp500 ribu — fakta inilah yang jadi pengingat keras bagi para pendamping desa yang berkumpul di Grand Madani Hotel, Mataram, Selasa (7/7/2026). Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mewakili Gubernur NTB membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pendamping Desa Berdaya Transformatif se-Pulau Lombok Tahap 2, sekaligus mengingatkan bahwa tugas mereka jauh lebih besar dari sekadar administratif: mengentaskan kemiskinan ekstrem dari akar rumput.
Desa Mandiri, Fondasi Utama NTB Maju
Baiq Nelly menegaskan bahwa kemajuan NTB sangat bergantung pada kemandirian desa. Sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pendamping desa dinilai menjadi modal utama menciptakan kesejahteraan masyarakat, dengan desa diharapkan menjadi unit yang produktif, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
"Tugas Bapak dan Ibu sangat mulia karena mendampingi saudara-saudara kita yang berada dalam kategori miskin ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan ada saudara kita yang pengeluaran per bulannya tidak sampai Rp 500 ribu. Ini adalah tantangan besar yang harus kita selesaikan bersama," tegas Baiq Nelly.
Kemiskinan NTB 11,38 Persen, Bali Cuma 3 Persen
Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah perbandingan angka kemiskinan ekstrem NTB yang berada di 11,38 persen, jauh lebih tinggi dibanding provinsi tetangga, Bali, yang hanya 3 persen meski memiliki potensi alam serupa. Perbandingan ini sengaja diangkat Baiq Nelly untuk memacu semangat para pendamping agar tak sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Modal Usaha Jadi Alternatif Selain BLT
Sebagai langkah konkret, Pemprov NTB berkomitmen memberikan dukungan nyata lewat pemberian modal usaha bagi masyarakat miskin ekstrem. Langkah ini diharapkan menghasilkan pendapatan harian yang berkelanjutan, sehingga masyarakat tak lagi bergantung sepenuhnya pada Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan mampu mendongkrak daya beli mereka di atas Rp500 ribu per bulan.
Tiga Pilar Desa Berdaya Transformatif
Konsep Desa Berdaya Transformatif yang diusung tak berhenti pada perubahan pola pikir semata, melainkan mencakup tiga pilar: penguatan kelembagaan desa, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola desa.
"Kami mengajak seluruh pendamping untuk menjaga integritas dan profesionalisme. Jadilah agen perubahan yang mampu berkolaborasi dengan pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha, hingga akademisi. Pendamping harus hadir tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai inovator dan motivator pembangunan desa," pungkas Baiq Nelly.
Bimtek Ketiga Kalinya bagi Pendamping Desa
Sementara itu, Kepala DPMPD Dukcapil Provinsi NTB, Ir. Lalu Hamdi, menjelaskan bahwa kegiatan bimtek ini merupakan yang ketiga kalinya digelar bagi para pendamping desa berdaya transformatif.
"Kita harap para pendamping dapat bekerja dengan profesional. Tetap semangat karena bapak ibu adalah harapan kita semua," ujar Lalu Hamdi.
Ia menegaskan bahwa esensi pendampingan sesungguhnya adalah membantu warga yang masuk kategori miskin ekstrem agar bisa terlepas dari jerat kemiskinan dan memperoleh penghasilan tambahan lewat usaha yang dikembangkan dari potensi desa dan SDM masyarakat setempat. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi para pendamping desa untuk mempercepat realisasi target pembangunan daerah, demi terwujudnya NTB yang lebih sejahtera.
(*)

