![]() |
| Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal duduk bersama ratusan anak sambil mendongeng dalam Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026 di Pendopo Gubernur, Minggu (26/7/2026). |
Mataram, KabarNTB - Di tengah gempuran gawai dan media sosial, satu pertanyaan mendasar kembali mengemuka: masih adakah ruang bagi anak-anak NTB mengenal akar budayanya sendiri? Pertanyaan itulah yang coba dijawab Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam momentum Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026. Bukan hanya soal pendidikan, kesehatan, dan kasih sayang, dinas ini menegaskan bahwa setiap anak juga punya hak mengenal identitas budayanya sebagai fondasi pembentukan karakter dan jati diri.
Budaya Sebagai Kompas, Bukan Penghalang Kemajuan
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, mengakui perkembangan teknologi digital dan arus globalisasi telah membuka ruang belajar yang jauh lebih luas bagi anak-anak masa kini. Namun di saat bersamaan, perubahan itu menuntut fondasi karakter yang kuat agar anak tumbuh cerdas dan berdaya saing tanpa tercerabut dari akar budayanya.
"Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin kita hentikan. Tantangannya bukan memilih antara budaya atau teknologi, melainkan memastikan anak-anak kita memiliki akar budaya yang kuat sehingga mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana tanpa kehilangan jati dirinya. Budaya bukan untuk melawan kemajuan, tetapi menjadi kompas yang menuntun arah kemajuan," ujar Muhamad Ihwan.
Keluarga, Ruang Pertama Mengenal Bahasa Ibu dan Adat Istiadat
Menurut Ihwan, keluarga adalah ruang pertama tempat anak mengenal bahasa ibunya, belajar menghormati orang tua, memahami nilai gotong royong, mengenal adat istiadat, mendengar cerita rakyat, hingga menyerap keteladanan yang kelak membentuk cara berpikir mereka dalam bermasyarakat.
Pesan Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, bahwa kasih sayang orang tua merupakan hak terbesar setiap anak, menurut Ihwan juga memiliki makna mendalam dari sudut pandang kebudayaan. Kasih sayang, katanya, tidak hanya soal perhatian dan pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga pewarisan nilai, tradisi, bahasa daerah, sejarah, dan keteladanan sejak usia dini.
Maja Labo Dahu hingga Nggahi Rawi Pahu, Modal Sosial NTB
NTB memiliki kekayaan budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu. Nilai Maja Labo Dahu yang mengajarkan rasa malu dan takut berbuat tercela, Sabalong Samalewa yang menekankan keseimbangan dan keadilan, serta Nggahi Rawi Pahu yang mengajarkan keselarasan ucapan dan tindakan, menjadi modal sosial yang lama membentuk masyarakat NTB religius, santun, jujur, dan menjunjung kebersamaan.
Sayangnya, di tengah derasnya arus digital, ruang-ruang pewarisan budaya justru menghadapi tantangan baru. Tradisi mendongeng, permainan rakyat, penggunaan bahasa daerah dalam keluarga, hingga kebiasaan bermusyawarah mulai berkurang intensitasnya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya lewat festival atau seremoni, melainkan harus hidup dalam keseharian.
Revitalisasi Museum hingga Agen Kebudayaan Muda
Sebagai komitmen nyata, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB terus memperkuat sejumlah program pemajuan kebudayaan, di antaranya revitalisasi Museum Negeri NTB sebagai ruang edukasi ramah anak, penguatan fungsi Taman Budaya sebagai pusat kreativitas generasi muda, pelestarian tradisi lisan, permainan rakyat, bahasa daerah, manuskrip, seni tradisi, serta pengembangan Agen Kebudayaan Muda di seluruh kabupaten dan kota. Program-program ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sekaligus mendukung visi NTB Makmur Mendunia.
"Kami meyakini bahwa membangun kebudayaan pada hakikatnya adalah membangun manusia. Museum, taman budaya, sanggar seni, dan ruang-ruang kebudayaan harus menjadi tempat anak-anak mengenal sejarah, mencintai budayanya, mengembangkan kreativitas, serta membangun karakter yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya," tambah Muhamad Ihwan.
Anak sebagai Pewaris sekaligus Pencipta Kebudayaan Masa Depan
Melalui peringatan HAN 2026, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB mengajak orang tua, guru, tokoh agama, tokoh adat, pelaku seni budaya, pemerintah daerah, dunia pendidikan, media, dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama memenuhi hak anak atas identitas budaya lewat pewarisan nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, warisan terbesar yang bisa diberikan kepada anak bukan sekadar ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, melainkan karakter, identitas, dan nilai-nilai budaya yang akan menjadi kompas hidup mereka di tengah perubahan zaman. Anak-anak bukan hanya pewaris kebudayaan, tetapi juga pencipta kebudayaan masa depan, dan karena itu mereka perlu diberi ruang untuk mengenal akar budayanya sekaligus berkreasi sesuai zamannya.
(*)

