Kota Bima, KabarNTB - Penebangan pohon-pohon di kawasan Taman Ria Kota Bima yang dilakukan untuk mendukung proyek pembangunan Kolam Retensi Amahami terus memancing reaksi warga. Kali ini, suara datang dari Adi Supriadi Japong yang menuangkan keprihatinannya melalui unggahan di Facebook, Selasa (12/5/2026).
Ia mengingatkan bahwa keindahan Taman Ria tidak pernah lahir dari beton, lampu warna-warni, atau ornamen buatan. Pesona kawasan itu tumbuh dari rindangnya pepohonan yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Kota Bima.
"Pohon-pohon itu bukan sekadar penghias, melainkan bagian dari ingatan warga, tempat anak-anak bermain, orang tua beristirahat, dan masyarakat menikmati ruang kota yang alami." tulisnya.
Ironi Pembangunan yang Mengorbankan Identitas Taman
Adi menilai penebangan pohon di kawasan Taman Ria merupakan sebuah ironi yang menyakitkan. Pemerintah Kota Bima, menurutnya, seolah lebih memilih mempercantik wajah kota dengan proyek fisik, tetapi melupakan bahwa identitas sebuah taman justru terletak pada hijaunya pepohonan — bukan pada infrastruktur beton yang menggantikannya.
"Apa arti taman tanpa keteduhan? Apa arti ruang publik jika udara panas menggantikan kesejukan yang dulu dirasakan masyarakat?" ungkapnya.
Pohon Butuh Puluhan Tahun Tumbuh, Beberapa Jam untuk Ditebang
Adi juga menyoroti ketimpangan antara waktu yang dibutuhkan alam dan kecepatan keputusan manusia. Pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh besar, namun hanya beberapa jam untuk ditebang. Keputusan seperti itu, menurutnya, mencerminkan minimnya kepekaan terhadap lingkungan dan kebutuhan nyata warga akan ruang hijau.
"Di tengah cuaca yang semakin panas dan ancaman krisis iklim, kota seharusnya menjaga pohon, bukan mengorbankannya demi estetika sesaat." tegasnya.
Ia menutup catatannya dengan menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan secara membabi buta — namun pembangunan yang baik adalah yang merawat alam, bukan menghilangkannya.
"Masyarakat tidak menolak pembangunan, tetapi pembangunan yang baik adalah yang merawat alam, bukan menghilangkannya." tulisnya.
(*)

