
Kepala Dinas Pertanian Kota Bima, Abdul Najir, S.Pt., M.M.
Kota Bima, KabarNTB - Warga Kota Bima belakangan ini diresahkan oleh kemunculan ribuan wereng daun jagung (Dalbulus maidis) yang mengerumuni rumah-rumah pada malam hari. Kepala Dinas Pertanian Kota Bima, Abdul Najir, S.Pt., M.M., menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang terjadi saat musim tanam jagung, namun tidak berbahaya bagi manusia karena wereng tidak menggigit atau menularkan penyakit.
Wereng Daun Jagung: Hama Tanaman, Bukan Pengganggu Manusia
Wereng daun jagung berukuran 3–4 milimeter, bertubuh kekuningan hingga cokelat muda, dengan dua titik hitam di kepala. Hama ini merupakan vektor penyakit pada tanaman jagung, seperti bakteri penyebab tongkol kecil dan virus kerdil. Siklus hidupnya pendek, betina mampu menghasilkan ratusan telur, sehingga populasinya bisa meledak dalam waktu singkat pada kondisi hangat dan tersedianya tanaman jagung terus-menerus.
Di Kota Bima yang memiliki luasan pertanaman jagung besar, puncak populasi wereng terjadi pada fase vegetatif. Saat ini, tanaman jagung telah memasuki fase generatif, sehingga sumber makanan berkurang dan wereng bermigrasi ke permukiman—bukan untuk menyerang rumah, melainkan karena tertarik pada cahaya (fototaksis positif).
“Fenomena masuknya wereng ke rumah-rumah warga pada malam hari bukan berarti rumah menjadi sumber serangan, melainkan akibat perilaku alami serangga tersebut yang tertarik pada cahaya,” jelas Abdul Najir.
Dampak pada Pertanian: Kerugian Ekonomi bagi Petani
Pada tanaman jagung, serangan wereng menyebabkan kerusakan langsung (penghisapan cairan) dan tidak langsung (penularan penyakit). Tanaman menjadi kerdil, daun menguning, pertumbuhan terhambat, dan produksi menurun drastis, yang merugikan petani secara ekonomi.
Upaya Pengendalian dan Tips untuk Warga
Dinas Pertanian Kota Bima telah memperkuat sistem peringatan dini, mengedukasi petani tentang penanaman serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian gulma, dan pemantauan populasi hama. Penggunaan insektisida menjadi pilihan terakhir sesuai rekomendasi lapangan.
Untuk mengurangi wereng masuk rumah, warga disarankan:
- Mematikan atau meredupkan lampu luar yang terlalu terang
- Menggunakan lampu warna kuning yang kurang menarik serangga
- Memasang kasa di jendela/ventilasi
- Menutup pintu dan jendela pada malam hari
“Penting untuk dipahami bahwa fenomena ini hanya bersifat sementara mengikuti dinamika populasi di lahan pertanian. Dengan pendekatan terintegrasi antara pemerintah dan petani/masyarakat, insya Allah fenomena ini dapat dikendalikan secara efektif,” pungkas Abdul Najir.
(*)
