
Tim MAPALA Sympel Universitas Muhammadiyah (UM) Bima.
Bima, KabarNTB — Tim Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Sympel Universitas Muhammadiyah (UM) Bima diperkirakan melanjutkan perjalanan menuju Karombo, yang menjadi Posko Utama Pencarian, pada Selasa pagi. Sebelumnya, tim terpaksa bermalam di kawasan hutan karena kondisi medan dan cuaca yang tidak memungkinkan untuk menembus jalur utama.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, keputusan beristirahat di hutan diambil sebagai langkah paling aman setelah tim tidak dapat melanjutkan perjalanan pada malam hari. Jalur setelah hutan menuju Karombo dikenal sebagai salah satu rute paling menantang dan berisiko tinggi.
Medan yang harus dilalui berupa lereng curam dengan kemiringan ekstrem. Pada sejumlah titik, pijakan hanya mengandalkan rumput dan tanah labil. Risiko terpeleset sangat tinggi karena di sisi jalur terbentang jurang dalam yang mengancam keselamatan.
“Ini satu-satunya jalur menuju Karombo. Tidak ada alternatif lain,” ujar sumber di lapangan.
Estimasi Tiba Pagi hingga Menjelang Siang
Perjalanan dari lokasi hutan menuju Posko Utama Pencarian diperkirakan memakan waktu tiga hingga empat jam, bergantung pada kondisi fisik dan beban logistik yang dibawa tim. Jika keberangkatan dilakukan pada pagi hari, tim diperkirakan tiba di Karombo sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WITA.
Setelah tiba, aktivitas pencarian baru dapat dilakukan paling cepat pada siang hari, dengan catatan kondisi fisik anggota tim masih memungkinkan. Medan berat dan perjalanan panjang menjadi faktor utama yang memengaruhi kesiapan tim untuk langsung bergerak.
Akses Komunikasi Sangat Terbatas
Untuk melakukan komunikasi dengan tim pendukung di bawah, anggota MAPALA Sympel harus mencapai titik bernama Mbanta, satu-satunya lokasi yang memungkinkan akses jaringan telepon seluler. Lokasi Mbanta berada di puncak dan berjarak sekitar 500 meter dari pusat letusan, menurut keterangan warga setempat.
Dari Posko Utama Pencarian, perjalanan menuju Mbanta memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga jam dengan jalur menanjak dan berhadapan langsung dengan tebing curam. Akses menuju titik ini dinilai sangat ekstrem dan membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi.
Keselamatan Tim Jadi Prioritas
Kondisi medan yang berat, keterbatasan jalur, serta minimnya akses komunikasi menjadi tantangan utama dalam upaya pencarian. Oleh karena itu, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pergerakan tim di lapangan.
Informasi ini disampaikan oleh Anshar Sangiang, anggota tim pertama yang tiba di lokasi pencarian pada Senin, 15 Desember, dan menjadi salah satu sumber utama perkembangan situasi terkini di lapangan.
(*)
