Lombok Tengah, KabarNTB - Lebih dari sekadar ajang balap, gelaran MotoGP Mandalika tahun ini dirancang sebagai mesin penggerak ekonomi Nusa Tenggara Barat. Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut dilibatkan, sementara percepatan investasi kawasan terus digenjot agar manfaatnya mengalir hingga ke lapisan masyarakat terluas.
Dampak Ekonomi Melampaui Arena Balap
Direktur Operasi Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Troy Reza Warokka, menegaskan bahwa penilaian terhadap dampak ekonomi MotoGP tidak bisa hanya berhenti pada transaksi di area festival. Perputaran uang yang sesungguhnya, kata dia, justru tersebar di sektor perhotelan, restoran, transportasi udara, dan berbagai segmen pariwisata lainnya yang bergerak bersamaan selama penyelenggaraan berlangsung.
"Dampak ekonomi MotoGP tidak hanya dilihat dari aktivitas di area festival, tetapi juga dari pergerakan sektor perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, dan pariwisata. Kami berharap manfaat penyelenggaraan ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal," ujar Troy dalam konferensi pers di Media Center Indonesia, Sabtu (10/10).
Troy menjelaskan, pemantauan dampak ekonomi dilakukan melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan, termasuk survei pra-penyelenggaraan. Aktivitas ekonomi diperkirakan masih terus bergulir dua hingga tiga hari seusai balapan, seiring arus wisatawan dan penumpang pesawat yang belum seluruhnya meninggalkan Lombok.
600 UMKM Ramaikan Festival Pendamping
Sekitar 600 UMKM tercatat ambil bagian dalam rangkaian festival yang mengiringi balapan, menjadi etalase bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada ribuan penonton dari berbagai penjuru dunia. Festival tersebut juga diramaikan penampilan Happy Asmara dan Judika, berbagai atraksi hiburan, serta pembagian hadiah.
Keterlibatan ratusan UMKM itu, menurut Troy, merupakan wujud nyata komitmen agar gelaran internasional sekelas MotoGP tidak hanya menguntungkan korporasi besar, tetapi juga membuka celah rezeki bagi wirausaha kecil di sekitar kawasan Mandalika.
Evaluasi Berkelanjutan untuk Tingkatkan Kualitas
Troy mengungkapkan, evaluasi terhadap penyelenggaraan dari tahun ke tahun terus dilakukan, khususnya menyangkut strategi promosi, kesiapan teknis acara, dan penguatan kegiatan pendukung. Upaya perbaikan itu menjadi bagian dari ikhtiar meningkatkan daya tarik Mandalika sebagai destinasi sport tourism bertaraf dunia.
Pengembangan kawasan, kata Troy, juga mencakup pembangunan resor, hostel, restoran, dan fasilitas pendukung lainnya. Namun ia menekankan, seluruh rencana itu hanya akan berjalan optimal jika diiringi kepastian realisasi investasi dan penyerapan tenaga kerja lokal yang serius.
"Pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada konten, aktivitas, dan fasilitas yang dapat meningkatkan daya tarik Mandalika. Percepatan investasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan kawasan," katanya.
Sinergi Jadi Kunci Keberlanjutan Investasi
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Ananda Mikola, mengingatkan bahwa keberhasilan pengembangan Mandalika tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan besarnya modal yang masuk. Sinergi antara pemerintah, investor, pelaku usaha, media, dan masyarakat menjadi prasyarat yang tidak bisa diabaikan.
"Keberhasilan pengembangan kawasan tidak hanya bergantung pada modal, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan kolaborasi seluruh pihak. Sinergi tersebut diperlukan agar investasi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kawasan dan masyarakat," ujar Ananda.
Ananda menambahkan, peluang investasi yang kian terbuka di Mandalika harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia lokal dan iklim usaha yang kondusif, agar roda ekonomi yang berputar selama MotoGP tidak sekadar menjadi euforia sesaat.
Mandalika dan Mimpi Besar NTB
Melalui perpaduan ajang MotoGP, penguatan ekosistem pariwisata, dan percepatan realisasi investasi, Mandalika diproyeksikan semakin memperbesar kontribusinya bagi perekonomian NTB. Penguatan UMKM dan penyerapan tenaga kerja lokal disebut menjadi dua pilar utama agar pertumbuhan itu tidak hanya tampak megah di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat sekitar kawasan.
(*)

