Mataram, KabarNTB - Momen silaturahmi di Pendopo Tengah Gubernur NTB, Sabtu (10/10/2026), menjadi bukti bahwa solidaritas antara Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur tumbuh melampaui batas administratif. Gubernur NTT E. Melkiades Laka Lena hadir langsung untuk menyampaikan apresiasi kepada ratusan relawan kemanusiaan NTB yang tergabung dalam KR-BNN NTB, usai mereka menuntaskan misi bantuan bagi korban gempa M7,7 di NTT. Pertemuan yang juga dirangkaikan penyerahan penghargaan kepada para relawan itu turut dihadiri Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Sekda NTB Abul Chair, para asisten Setda, serta sejumlah kepala perangkat daerah terkait.
Lebih dari Bantuan Fisik
Gubernur NTT Melkiades mengakui bahwa kehadiran para relawan NTB di tengah masyarakat yang terdampak bencana membawa makna jauh lebih dalam dari sekadar distribusi logistik atau layanan medis. Rasa tidak sendirian, kata dia, adalah hal terbesar yang dirasakan warganya.
"Kehadiran Bapak dan Ibu bukan hanya memberikan bantuan secara fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan emosional bagi masyarakat kami. Mereka merasa tidak sendirian, merasa diperhatikan, dan merasa bahwa masih banyak saudara yang peduli terhadap keadaan mereka," ungkap Gubernur NTT Melkiades.
Pesan itu senada dengan ungkapan yang mengemuka dalam forum tersebut: "Tertusuk padaku, berdarah padamu." Sebuah metafora bahwa penderitaan saudara serumpun tidak boleh hanya disaksikan dari kejauhan.
Pengalaman Gempa Lombok Jadi Pijakan
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyebut keputusan mengirimkan tim kemanusiaan ke NTT bukan keputusan seremonial. Ia berangkat dari ingatan kolektif warga NTB yang pernah merasakan sendiri trauma Gempa Lombok 2018, ketika ketakutan dan kehilangan rasa aman berlangsung jauh setelah guncangan fisik berakhir.
"Ketika NTT mengalami musibah, kita tidak melihatnya sebagai persoalan daerah lain. Kita melihat saudara-saudara kita sedang menghadapi kesulitan yang pernah kita rasakan. Karena itu, kita tidak cukup hanya menyampaikan belasungkawa. Kita harus hadir, membantu, dan memastikan mereka tidak menghadapi penderitaan itu sendirian," ujar Iqbal.
Lebih jauh, Iqbal menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini sekaligus menjadi evaluasi lapangan. Pengalaman bertugas di Manggarai Timur dan Manggarai Barat harus dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, kesiapan personel, dan dukungan logistik agar respons bencana ke depan bisa lebih cepat dan terarah.
Berangkat dalam 24 Jam, Bertugas 15 Hari
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB Ahsanul Halik, yang menjabat Ketua Satgas KR-BNN NTB, mengungkapkan bahwa tim relawan berhasil diberangkatkan dalam waktu kurang dari 24 jam sejak instruksi Gubernur NTB turun. Selama lebih dari 15 hari, mereka menjalankan layanan kesehatan, mengoperasikan dapur umum, dan mendampingi warga terdampak di dua kabupaten sekaligus.
"Kami datang bukan karena kami tidak pernah terluka, tetapi justru karena kami tahu bagaimana rasanya terluka dan hal itu pernah kami rasakan pada Gempa Lombok 2018," ujar Ahsanul, mewakili para relawan.
Ahsanul juga mengenang ketulusan warga NTT di tengah keterbatasan. Masyarakat setempat menyambut para relawan dengan menawarkan kelapa muda, menyuguhkan kopi dan pisang goreng, hingga menghadiahkan kain khas daerah. Momen-momen itu, kata dia, menjadi pengingat bahwa kemanusiaan bukan hanya soal memberi, melainkan juga soal ketulusan menerima dan saling menguatkan.
Persaudaraan yang Terus Hidup
Silaturahmi Sabtu itu mempertegas satu hal: ikatan NTB dan NTT tidak berhenti ketika kondisi darurat mereda. Ia tumbuh dari pengalaman bersama menghadapi bencana, dan menguat melalui komitmen untuk tidak saling meninggalkan ketika ujian berikutnya datang.
(*)

