Mataram, KabarNTB - Untuk pertama kalinya, RSUD Provinsi NTB berhasil melakukan tindakan bypass STA-MCA, sebuah prosedur bedah saraf kompleks yang selama ini hanya tersedia di segelintir provinsi. Pencapaian ini menempatkan NTB dalam kelompok 11 provinsi dari total 38 di seluruh Indonesia yang sudah mampu menghadirkan layanan tersebut, sekaligus menjadi bukti konkret dari upaya pemerataan layanan kesehatan yang didorong di bawah kepemimpinan Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri.
Dua Pasien Pertama: Anak 12 Tahun dan Penyintas Stroke
Kemampuan baru ini diuji langsung melalui penanganan dua pasien. Pasien pertama adalah seorang anak berusia 12 tahun yang telah mengalami kelemahan di satu sisi tubuh serta gangguan bicara dan kognitif sejak sekitar usia satu tahun. Pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) mengungkap adanya penyempitan pembuluh darah otak, dan pasien didiagnosis menderita Moyamoya, kelainan langka yang menghambat aliran darah ke otak. Tindakan bypass otak dilakukan untuk membuka jalur suplai darah baru guna mengurangi risiko stroke berulang.
Pasien kedua berusia 42 tahun dengan riwayat stroke iskemik disertai gangguan bicara dan kelemahan anggota gerak. Hasil pemeriksaan menunjukkan gangguan suplai darah ke otak, sehingga prosedur bypass dipilih untuk memperbaiki aliran darah dan menekan risiko kejadian serupa di masa mendatang.
NTB Masuk Peta Terbatas Layanan Bedah Saraf Nasional
Direktur Pelayanan Klinis Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes., menegaskan bahwa capaian NTB ini tergolong istimewa mengingat masih sempitnya peta layanan serupa di tingkat nasional.
"Dari 38 provinsi, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA ini. Kalau ini berkelanjutan dan rumah sakit sudah mandiri, berarti sudah setara dengan rumah sakit pengampu," ujar Obrin di Mataram, Jumat (11/9).
Menurut Obrin, Kementerian Kesehatan terus mendorong pemerataan layanan prioritas agar penanganan kasus berkompleksitas tinggi tidak seluruhnya terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatra. Dukungan Kemenkes juga diarahkan pada kesiapan fasilitas, termasuk penyediaan mikroskop bedah dan perangkat bedah mikro, sementara peningkatan kompetensi sumber daya manusia dilanjutkan melalui jejaring rumah sakit pengampu.
Proctorship: Bukan Sekadar Tindakan, Tapi Transfer Ilmu
Kemampuan ini tidak tumbuh dalam semalam. Rangkaian proctorship bypass otak berlangsung pada 11 hingga 12 September 2026, melibatkan tim RSUD Provinsi NTB bersama dua rumah sakit pengampu berpengalaman, yakni RS PON Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta dan RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Bali. Pendampingan mencakup seluruh rangkaian tindakan, mulai dari persiapan dan pengambilan keputusan klinis hingga pemantauan pascaoperasi.
Sekretaris Daerah NTB Abul Chair, yang menyaksikan langsung pelaksanaan proctorship, menilai proses itu jauh melampaui bantuan teknis semata.
"Bukan hanya ikannya, tetapi juga cara menangkap ikan dan bagaimana mengolahnya," kata Abul Chair, menggambarkan bahwa proctorship ini dirancang untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan secara menyeluruh kepada tim medis daerah.
Lima Spesialis Bedah Saraf dan Ambisi Menjadi RS Pengampu
RSUD Provinsi NTB kini ditopang oleh lima dokter spesialis bedah saraf yang terus mengembangkan keahlian melalui pendidikan lanjutan, termasuk program fellowship di Jepang. Dengan fondasi itu, target jangka panjangnya bukan hanya kemandirian layanan, tetapi juga menjadikan RSUD NTB sebagai rumah sakit pengampu bagi provinsi lain di kawasan timur Indonesia.
Bagi masyarakat NTB, arah perubahan ini membawa dampak yang sangat nyata. Layanan kompleks yang sebelumnya mengharuskan pasien menempuh perjalanan jauh ke Bali atau Makassar kini perlahan bisa diakses di ibu kota provinsi sendiri. Membangun layanan kesehatan unggulan, seperti yang ditunjukkan proses ini, bukan semata soal teknologi, melainkan tentang membangun manusia, sistem, dan kapasitas agar pelayanan terbaik semakin dekat dengan rakyat.
(*)
