![]() |
| dr. Fathurrahman, FISQua, FIHFAA |
Kota Bima, KabarNTB - Target rampung proyek senilai Rp35,12 miliar itu ternyata tak semulus rencana awal. Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Kota Bima harus molor dari jadwal, dan Pemerintah Kota Bima buka-bukaan soal penyebabnya: mulai dari desain yang berubah di tengah jalan, hujan yang mengguyur hampir sepertiga tahun, hingga jalur akses proyek yang masih penuh material bekas pembangunan sebelumnya. Namun Pemkot menegaskan, perpanjangan waktu ini bukan keputusan sepihak, melainkan hasil kajian ketat sesuai aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Bukan Keputusan Sepihak, Ada Tiga Lapis Evaluasi
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, dr. Fathurrahman, FISQua, FIHFAA, menegaskan bahwa perpanjangan masa kerja ini melewati evaluasi berlapis: tim teknis, tim probity audit Inspektorat, hingga tim pendamping proyek strategis dari Kejaksaan Tinggi NTB. Semua mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah serta ketentuan yang tertuang dalam dokumen kontrak.
"Penambahan waktu pelaksanaan merupakan mekanisme yang telah diatur dalam regulasi. Keputusan ini diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi di lapangan, sehingga seluruh proses tetap berada dalam koridor hukum dan tata kelola pengadaan yang berlaku," ujar dr. Fathurrahman, Jumat sore (3/7/2026).
Desain Berubah, Hujan 101 Hari, hingga Akses Terhambat
Salah satu pemicu utama molornya proyek adalah perubahan ruang lingkup pekerjaan lewat skema Contract Change Order (CCO), yang berimbas pada penyesuaian ulang desain struktur maupun arsitektur bangunan. Belum lagi faktor alam yang tak bisa dikendalikan: data BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima mencatat sepanjang Oktober 2025 hingga April 2026, terjadi 101 hari hujan yang berulang kali menghentikan aktivitas konstruksi di lapangan.
Di awal pelaksanaan, proyek ini juga sempat tersendat karena akses lokasi masih dipenuhi tumpukan material sisa pembangunan RSUD sebelumnya. Mobilisasi material dan alat berat pun kerap terganggu lantaran jalur akses yang sama dipakai bersamaan dengan pekerjaan konstruksi lain di kompleks rumah sakit.
Libur Panjang dan Biaya Logistik Turut Jadi Faktor
Momen libur nasional serta cuti bersama Idulfitri dan Iduladha turut memaksa aktivitas konstruksi berhenti sementara. Kondisi ekonomi global yang mengerek naik biaya logistik dan operasional disebut dr. Fathurrahman juga ikut menambah beban pelaksanaan di lapangan.
"Seluruh kendala tersebut telah didokumentasikan dan diverifikasi sebagai dasar pertimbangan dalam pemberian penambahan waktu pelaksanaan. Tujuannya bukan untuk mengurangi kualitas pekerjaan, tetapi justru memastikan pembangunan gedung rawat inap dapat diselesaikan secara optimal, memenuhi spesifikasi teknis, serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat," kata dr. Fathurrahman.
Dukung Layanan KJSU, Diawasi Ketat hingga Rampung
Gedung Rawat Inap ini dibangun sebagai bagian dari upaya peningkatan kelas RSUD Kota Bima, guna mendukung layanan unggulan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi). Proyek dengan nilai kontrak Rp35,12 miliar ini dibiayai dari APBD Kota Bima Tahun Anggaran 2025–2026. Pemkot Bima memastikan pengawasan akan terus diperketat agar pembangunan tuntas sesuai ketentuan, sehingga fasilitas kesehatan ini bisa segera beroperasi dan mendongkrak kualitas layanan kesehatan bagi warga Kota Bima.
(*)

