
Yanti (34) berdiri di depan rumah sewaan yang ia tempati bersama ibunya di Kelurahan Santi, Kota Bima. Kondisi bangunan tampak lapuk dan memprihatinkan, Senin (9/3/2026).
Kota Bima, KabarNTB - Sebuah rumah reot di Kelurahan Santi, Kota Bima, menjadi saksi kegigihan Yanti (34) bertahan hidup. Di usianya yang masih produktif, janda ini harus rela menempati bangunan lapuk bersama ibunya, hanya dengan biaya sewa Rp1 juta per tahun. Namun, di balik dinding yang mulai rapuh, ia menyimpan harapan agar rumahnya—meski hanya sewaan—mendapat perhatian dari program bedah rumah.
Memilih Bertahan di Bangunan Tua
Yanti mengaku sudah lama merasakan ketidaknyamanan tinggal di rumah yang sebagian bangunannya rusak itu. Selain struktur bangunan yang lapuk, ia dan ibunya kerap kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, keterbatasan ekonomi membuat mereka tak punya banyak pilihan. Rumah sewaan murah itu menjadi satu-satunya tempat berteduh yang mampu mereka bayar.
“Rumah ini kami sewa satu juta rupiah setahun. Pemiliknya ada di luar daerah. Saya tinggal di sini bersama ibu saya,” ujar Yanti saat ditemui, Senin (9/3/2026).
Yanti hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan kecil-kecilan di depan rumah. Meski memiliki sebidang lahan di Kelurahan Santi, ia tak punya biaya untuk membangun rumah sendiri. "Kami memilih rumah yang sewanya terjangkau. Kemampuan kami saat ini hanya bisa menyewa rumah murah ini daripada tidak punya tempat tinggal," katanya pasrah.
Jangankan Bedah Rumah, Survei pun Tak Pernah
Yang lebih menyakitkan, menurut Yanti, berbagai program bantuan bedah rumah yang kerap didengarnya hanya menjadi cerita. Ia mengaku belum pernah didatangi petugas atau lembaga mana pun untuk disurvei, padahal kondisinya sangat membutuhkan perhatian.
“Bantuan-bantuan itu hanya kami dengar dan lihat saja saat diberikan kepada warga lain. Kami belum pernah didatangi atau disurvei, padahal kondisi rumah kami sudah seperti ini,” keluhnya.
Yanti tak hanya menyoroti nasibnya sendiri. Rumah kerabatnya yang tepat di sebelah, berdinding jerami dan sebagian sudah berlubang, juga tak tersentuh bantuan. "Rumah bibi saya di sebelah juga kondisinya sangat memprihatinkan, tapi juga belum pernah diperhatikan," sesalnya.
Harapan di Tengah Kesibukan Baru
Baru-baru ini, Yanti mulai bekerja di salah satu dapur SPPG (Sistem Penyediaan Pangan Gratis) di Kota Bima. Pekerjaan itu sedikit mengurangi beban ekonomi keluarganya. Namun, ia tetap berharap ada perhatian dari pemerintah atau lembaga sosial terhadap kondisi tempat tinggalnya.
“Kami hanya berharap ada yang melihat keadaan hidup kami di Santi,” tuturnya lirih.
Kisah Yanti menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk program bantuan, masih ada warga yang nyaris tak terlihat. Mereka tinggal di rumah-rumah yang rapuh, menanti uluran tangan yang tak kunjung tiba.
(*)
